KEMBALINYA SANG PENGANTIN

Minggu, 19 Januari 2014
Jika saya--sayapmu letih
berbalik dan kembalilah
aku takkan melupakanmu
kau tak sanggup melupakanku

Kembalilah
Kau tak pernah hilang arah
Kembalilah
kau tahu jalan pulang

Amarahmu telah kau dendamkan
saatnya kembali pengantinku
Pintu akun selalu terbuka
Selamat datang pengantinku

RUMAH ASPIRASI

Sabtu, 18 Januari 2014
Memposkan kembali tulisan lama
Mungkin masih menarik
Untuk mencatat wacana yang lalu



Sejumlah wakil rakyat mengusulkan adanya dana aspirasi atau dana fasilitasi pembangunan sebesar Rp 15 miliar bagi setiap anggota DPR per tahun untuk pembangunan daerah pemilihan (Kompas, 3-4/6/2010). Ide dana aspirasi itu diadopsi dari sejumlah negara demokratis, seperti Amerika Serikat, Filipina, Afrika Selatan, Swedia, Norwegia, dan Denmark. Dana semacam itu disebut pork barrel atau uang propaganda pemilihan. Usulan dana aspirasi, atau juga disebut dana alokasi dapil, itu dibahas dalam rapat Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi Partai Pendukung Pemerintahan, tetapi tidak semua partai politik sepakat. Ketika ide ini dilontarkan ke publik, publikpun spontan menolaknya.
       Setelah gagal dengan ide dana aspirasi, 4 bulan kemudian Badan Urusan Rumah Tangga menganggarkan pembangunan rumah aspirasi di setiap dapil sebesar Rp. 112 miliar pertahun atau Rp. 200 juta bagi setiap anggota Dewan. Sebagai pembenaran, katanya rumah aspirasi ini merupakan hasil studi banding anggota DPR ke luar negeri. Lagi-lagi mayoritas fraksi di DPR menolak dan meminta Badan Urusan Rumah Tangga DPR meninjau ulang rencana tersebut. Para pengamat menilai anggota Dewan telah dirasuki semangat individual dengan memanipulasi aspirasi rakyat. Publik tentu saja menjadi geram dan menolak mentah-mentah rencana rumah aspirasi tersebut.
          Masyarakat mulai awas dan  mengintai kalau-kalau ada lagi rencana lanjutan para wakil rakyat. Masyarakat pers terus memantau perkembangan politik dan geliat lobby-lobby partai politik. Tiba-tiba saja Pabbicara, wartawan senior salah satu surat kabar nasional mendapat info dari salah seorang korespondennya di Sengkang, Sulawesi Selatan, bahwa di salah satu kecamatan telah dibangun rumah aspirasi. Pabbicara melaporkan hal tersebut kepada pemimpin redaksi. Pemimpin redaksi bisa saja menugaskan korespondennya untuk melakukan peliputan di sana. Tetapi pemimpin redaksi melihat info ini sebagai berita yang super eksklusif, dan untuk itu ia memerintahkan Pabbicara untuk segera berangkat ke Sengkang dengan membawa serta fotografer handalnya untuk melakukan peliputan dan wawancara mendalam tentang pembangunan rumah aspirasi tersebut.
          Pabbicara tidak menemui kesulitan untuk mendapatkan alamat rumah aspirasi karena ia juga ditemani oleh koresponden yang memberikannya info awal. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya mereka menemukan tempat yang dimaksud. Rumah aspirasi itu terbuat dari kayu berbentuk rumah panggung. Tampak depan sangat mewah karena pintu besarnya terbuat dari kayu jati. Rumah aspirasi tersebut di topang oleh 18 tiang. Di atas pintu utama tertulis jelas, “Aspirasi”. Photografer mulai sibuk memotret rumah aspirasi dari berbagai sudut.
          Pabbicara, photographer dan kurirnya menaiki tangga. Mereka diterima oleh seorang laki-laki hitam, berkumis, dengan wajah yang bersih. Pabbicara menduga pria itu tentu seseorang yang ditugaskan menjaga rumah aspirasi, atau setidak-tidaknya kepala bagian rumah tangga rumah aspirasi. “Assalamu Alaikum,” sapa Pabbicara.
          “Wa Alaikummussalam. Silahkan duduk Pak ! Mungkin ada keperluan yang bisa saya bantu.”
          “Saya Pabbicara, wartawan Ibukota. Kami ingin melakukan peliputan tentang rumah aspirasi ini, kegiatan-kegiatan yang dilakukan di rumah aspirasi ini dan kesempatan wawancara dengan anggota dewan yang telah membangun rumah aspirasi ini. Kami pastikan tulisan tentang ini nantinya sangat ditunggu-tunggu publik.”
          “Saya belum paham maksud kedatangan bapak-bapak ini”
          “Kapan rumah aspirasi ini mulai dibangun, Pak ?” tanya Pabbicara.
          “tepatnya empat bulan yang lalu dan baru selesai minggu kemarin.”
          “Boleh tahu berapa dana yang dihabiskan untuk merampungkan rumah aspirasi ini ?”
          “Kurang lebih Rp. 200 juta termasuk eksterior dan segala perabotan di dalamnya.”
          “Bagaimana proses pencairan dana APBN untuk membangun rumah aspirasi ini?” tanya Pabbicara semakin dalam menyelidiki.
          “Saya tidak mengerti maksud bapak.”
          “Rumah aspirasi ini dibangun dengan biaya APBN kan…?” tanya Pabbicara lebih jauh menginterogasi.
          “Rumah ini saya bangun dengan uang halal dari hasil penjualan tanah warisan orang tua dan hasil usaha saya selama bertahun-tahun,” jawab tuan rumah mulai tersinggung.
          “Ooh Bapak pemilik rumah aspirasi ini. Boleh tahu Bapak siapa?”
          “Saya, Aspirasi…!”
          “Nama Bapak….?” Tanya Pabbicara minta kejelasan
          “Nama saya, Aspirasi. Lengkapnya, dr. Aspirasi Muhammad Nganro”
          “Maaf…..Permisi Pak……Assalamu Alaikum……” ????????????????????


MENCARI DALAM MIMPI

Jumat, 17 Januari 2014
Suatu hari yang tak terlupa
Di persimpangan arus mayapada
Mawar penuh luka menyapa
Bercerita runtut tentang dirinya

Ia cantik
menarik
mandiri
dan menyendiri

Sikapnya menyenangkan hati
tuturnya menarik penuh arti
senyumnya menggoda hati
membuatku betah menghabiskan hari

Tak terasa malam melesat ke larut
Ia pamit dan berlalu
Pergi membawa serta cintaku.
Seperti angin laut
membelai dan berlalu
menyisakan tapak desirnya.

Aku mencarinya dalam mimpi
dan tiap kali terbangun
aku menemukan wanita yang sama
wanita yang menjaga waktuku.

Jakarta, 18/1/2014


ISAK TANGIS IBU PERTIWI

Minggu, 12 Januari 2014

Kulihat Ibu Pertwi, Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang, Emas intanmu terkenang.
Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa.


Lagu kebangsaan itu sering kunyanyikan ketika masih sekolah dulu. Aku tidak memahami maknanya, tetapi alunan nadanya sangat menyentuh hati. Kini ketika dewasa dan mulai bersentuhan dengan situasi bangsa dan negara yang kucintai ini, tampaklah bahwa kesusahan Ibu pertiwi bukan sekedar alunan lagu, melainkan sungguh kesusahan yang membuat lara, merintih hingga berlinang airmata. Tetapi Ibu Pertiwi adalah ibu sejati yang tetap mendoakan anak-anaknya. Aku mulai bertanya, apa yang menyusahkanmu Ibu Pertiwi ? Bukankah kekayaanmu begitu berlimpah dengan hutan, gunung, sawah dan lautan yang menyimpan kekayaan yang tak terhingga. Adakah karena usiamu semakin menua ? Atau khawatir tanah pusakamu tidak terolah dengan baik oleh anak-anakmu ? Atau mungkin anak-anakmu mulai bertingkah nakal dan tidak menuruti nasehat-nasehatmu ? kalau bukan karena demikian, mengapa engkau bersusah hati hingga menangis terisak-isak ?

Dalam perenunganku yang dalam kutemukan jawaban ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 28 Januari 2013 menandatangani Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri. Rupanya isak tangis Ibu Pertiwi sampai juga menembus dinding Istana dan menggema di telinga Presiden. Ibu Pertiwi selama ini ternyata sangat tidak bahagia dengan segala kekayaannya. Hatinya teriris dan sangat kecewa melihat anak-anaknya rusuh dimana-mana. Di Aceh, Ambon, Poso, Papua, lampung dan di berbagai tempat lain mereka saling membunuh tanpa menghiraukan jerit histeria Ibu Pertiwi. Ibu Pertiwi sungguh sedih menyaksikan kehidupan keluarga besarnya penuh pertentangan dan perbedaan pendapat, saling menyerang dan saling menyalahkan. Bahkan hanya untuk urusan pemilukada yang telah jelas aturan mainnya, dan jelas hasilnya saja mereka masih bertentangan hingga melibatkan banyak orang pengikutnya.

Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2013 ditujukan kepada Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Mendagri Gamawan Fauzi, Jaksa Agung Basrif Arief, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, Kepala BNPT, para Gubernur, para Bupati dan walikota. Siapapun yang menerima instruksi ini seakan mendengar isak tangis Ibu Pertiwi yang memaksa para pejabat tersebut terlibat secara sungguh-sungguh mendamaikan dan merukunkan kembali keluarga besar Ibu Pertiwi.

Menko Polhukam sebagai Ketua Tim Terpadu Tingkat Pusat segera menyusun rencana aksi terpadu nasional sekaligus meyakinkan beberapa pihak yang menentang Inpres ini bahwa anak bangsa ini tak boleh lagi membiarkan isak tangis Ibu Pertiwi berlarut-larut. Memang tidak tertutup kemungkinan ada orang atau kelompok  yang sengaja ingin membuat Ibu Pertiwi terus berderai air mata. Siapapun dia dan dari kelompok manapun wajib kita sadarkan. Apapun tantangan publik, keluarga besar Ibu Pertiwi harus disatukan kembali. Untuk itu selain Menko Polhukam, kepada Gubernur, Bupati dan Walikota juga diminta untuk membentuk Tim Terpadu Tingkat Daerah. Ini dilakukan agar benturan-benturan sosial yang terjadi di daerah dapat segera diredam sedini mungkin sebelum bereskalasi menjadi persoalan nasional.

Dalam Rapat Evaluasi Pelaksanaan Rencana Aksi Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri Tahun 2013 ditemukan fakta bahwa 70 persen penyebab gangguan keamanan dipicu oleh sengketa lahan/tanah. Ini rupanya yang membuat Ibu Pertiwi terisak-isak melihat anak-anak bangsanya saling tikai memperebutkan lahan tanpa memperdulikan akibat-akibat ikutannya. Rapat Evaluasi juga menemukan masih ada saja provinsi yang tidak memperdulikan tangisan Ibu Pertiwi

”Kini Ibu sedang lara, Merintih dan berdoa”

Wahai Ibu Pertiwi yang kami cintai ! Kini anak-anakmu, atas amanatmu telah berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan segala pemikiran untuk mengobati duka laramu. Sebentar lagi Ibu akan melihat senyum lepas anak-anak negeri membangun tanah pusakamu, hingga emas dan intan yang menjadi kenanganmu kembali tergenggam di tangan terampil dan cekatan anak-anakmu.

Wahai Ibu Pertiwi yang kami banggakan ! Doa-doa yang kau panjatkan dalam rintihan isak tangismu sedikit demi sedikit mulai diijabah oleh Allah. Alhamdulillah pada tahun 2013 ini hampir tak ada lagi konflik-konflik sosial antar anak bangsa yang menelan korban sia-sia. Kerukunan hidup anak-anakmu mulai terajut kembali sebagaimana cita-cita yang kau titipkan pada kami. (Telah dimuat di Majalah Nusa Khatulistiwa).

Jakarta, Januari 2014

KETIKA MONAS BERWAJAH MURUNG

Jumat, 10 Januari 2014


Namanya Monumen Nasional. Siapapun tahu ia adalah anak kandung nasionalisme Indonesia. Sebagaimana aku, hampir semua orang memanggilnya Monas dan ia cukup merasa nyaman dengan nama panggilan itu. Sejak lahir aku telah mengenalnya, setidak-tidaknya mengenal namanya. Ia tak pernah mengunjungiku, walaupun aku seringkali mengunjunginya. Ia memang sangat bangga berada di tempatnya, tetapi bukan berarti ia sombong dan tidak peduli dengan yang lainnya. Matanya tak pernah istirahat melihat dan mengamati suasana di sekitarnya. Begitu banyak yang mengagumi dan menyebut-nyebut namanya, tetapi hingga saat ini ia tetap memilih untuk hidup sendiri. Alasannya sangat sederhana, ia tak ingin dimiliki oleh hanya seseorang atau sekelompok etnis tertentu. Ia lebih bangga menjadi milik semua orang.

24 tahun terakhir ini kami sangat bersahabat, lebih bersahabat dibandingkan yang lain. Ia satu-satunya sahabat yang tidak pernah berubah bahkan nyaris tak tampak dimakan usia. Tubuhnya tetap tinggi, ramping dan kokoh. Bentuk kepalanya agak oval dengan rambut kuning kebanggaannya. Kemilau rambutnya semakin indah saat matahari menyiramkan cahayanya. Aku hafal betul kebiasaan, kesenangan dan hal-hal yang bisa membuatnya gundah. Bagaimana tidak. Aku mengetahui hari-harinya sebagaimana ia mengetahui hari-hariku tiap kali melintas di jalan Medan Merdeka Barat tempat dimana aku bekerja.

Sore itu, Jumat, 10 Januari 2014 aku melihatnya lain daripada biasanya. Air yang mengucur dan membasahi wajahnya, bukan hanya bekas tetesan air hujan yang siang itu memandikan bumi. Tetesan air itu telah bercampur dengan peluh dan airmata Monas. Tak ada seorangpun yang memperhatikan airmata itu karena Monas sengaja menumpahkan tangisannya ketika hujan turun deras. Ia tak ingin orang-orang yang menguguminya ikut bersedih. Tetapi aku sungguh tahu kesedihan itu. Aku tahu ada air mata dan peluh yang bercampur dengan air hujan. Itu tampak sekali dari kemurungan wajahnya. “Apa yang membuatmu sedih sahabatku ?”

“Mendekatlah, Bung Komar. Jangan biarkan orang  gusar dengan obrolan kita,”

“Ada seorang anak manusia, sumber daya potensial bangsa ini pernah berjanji di hadapan khalayak bahwa jika ia melakukan hal-hal sebagaimana disangkakan kepadanya, maka ia minta di gantung pada badanku yang tinggi dan kokoh ini. Aku sempat terperanjat dan bertanya, “mengapa aku?” 

“Kau keberatan Sahabatku..?”

“Apa arti keberatanku, Bung Komar. Kalau mereka menginginkan, badanku tak pernah bergeser dari tempatnya. Bersedia ataupun tidak bersedia, badanku memang sesuatu yang tersedia. Leherku cukup kuat menahan tali gantungan. Tetapi ketika itu semua berlangsung bukan berarti semua persoalan selesai. Janji memang telah ditunaikan.  Tapi pada saat yang sama persoalan diriku baru dimulai.”

“Apa persoalanmu sahabatku..?”

"Setelah kejadian itu, orang tak lagi mengenalku sebagai Monas, tetapi sebagai tiang gantungan koruptor. Kau pikir aku bangga dengan julukan itu ? Kau pikir aku berharap semua itu terjadi ? Tanyanya dengan suara meninggi."

“Jadi apa yang kau harapkan sahabatku..?”

“Aku berharap, dia yang terlanjur berkata, berjanji, dan bersumpah itu mau menarik perkataan, janji, dan sumpahnya di hadapan publik.”

“Kalau ia bersikeras tak mau menarik kata-katanya ?”

“Aku berharap proses hukum pada dirinya tidak membuktikan bahwa ia adalah seorang koruptor.”

“Kalau terbukti…! Bagaimana sahabatku ?”

“Aku berharap, ia mau mengatakan kepada publik bahwa Monas yang dia maksud waktu berjanji dan bersumpah itu, bukanlah aku,” menunjukkan dadanya. “Melainkan areal monument nasional yang berada di sekitarku.”

Jakarta, 11/i/2014