Jika saya--sayapmu letih
berbalik dan kembalilah
aku takkan melupakanmu
kau tak sanggup melupakanku
Kembalilah
Kau tak pernah hilang arah
Kembalilah
kau tahu jalan pulang
Amarahmu telah kau dendamkan
saatnya kembali pengantinku
Pintu akun selalu terbuka
Selamat datang pengantinku
Banyak rahasia yang tersembunyi di Langit. Untuk mengenalnya, dekatkan diri pada Illahi agar tirai ilmu terurai.
KEMBALINYA SANG PENGANTIN
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
19.31
Minggu, 19 Januari 2014
RUMAH ASPIRASI
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
06.07
Sabtu, 18 Januari 2014
Memposkan kembali tulisan lama
Mungkin masih menarik
Untuk mencatat wacana yang lalu
Mungkin masih menarik
Untuk mencatat wacana yang lalu
Sejumlah
wakil rakyat mengusulkan adanya dana aspirasi atau dana fasilitasi pembangunan
sebesar Rp 15 miliar bagi setiap anggota DPR per tahun untuk pembangunan daerah
pemilihan (Kompas, 3-4/6/2010). Ide dana aspirasi itu diadopsi dari
sejumlah negara demokratis, seperti Amerika Serikat, Filipina, Afrika Selatan,
Swedia, Norwegia, dan Denmark. Dana semacam itu disebut pork barrel atau uang
propaganda pemilihan. Usulan
dana aspirasi, atau juga disebut dana alokasi dapil, itu dibahas dalam rapat
Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi Partai Pendukung Pemerintahan, tetapi tidak
semua partai politik sepakat. Ketika ide ini dilontarkan ke publik, publikpun
spontan menolaknya.
Setelah gagal dengan ide dana aspirasi, 4 bulan kemudian Badan Urusan
Rumah Tangga menganggarkan pembangunan rumah aspirasi di setiap dapil sebesar
Rp. 112 miliar pertahun atau Rp. 200 juta bagi setiap anggota Dewan. Sebagai
pembenaran, katanya rumah aspirasi ini merupakan hasil studi banding anggota
DPR ke luar negeri. Lagi-lagi mayoritas fraksi di DPR menolak dan meminta Badan
Urusan Rumah Tangga DPR meninjau ulang rencana tersebut. Para pengamat menilai
anggota Dewan telah dirasuki semangat individual dengan memanipulasi aspirasi
rakyat. Publik tentu saja menjadi geram dan menolak mentah-mentah rencana rumah
aspirasi tersebut.
Masyarakat mulai awas
dan mengintai kalau-kalau ada lagi rencana
lanjutan para wakil rakyat. Masyarakat pers terus memantau perkembangan politik
dan geliat lobby-lobby partai politik. Tiba-tiba saja Pabbicara, wartawan
senior salah satu surat kabar nasional mendapat info dari salah seorang
korespondennya di Sengkang, Sulawesi Selatan, bahwa di salah satu kecamatan
telah dibangun rumah aspirasi. Pabbicara melaporkan hal tersebut kepada
pemimpin redaksi. Pemimpin redaksi bisa saja menugaskan korespondennya untuk
melakukan peliputan di sana. Tetapi pemimpin redaksi melihat info ini sebagai
berita yang super eksklusif, dan untuk itu ia memerintahkan Pabbicara untuk
segera berangkat ke Sengkang dengan membawa serta fotografer handalnya untuk
melakukan peliputan dan wawancara mendalam tentang pembangunan rumah aspirasi
tersebut.
Pabbicara tidak menemui
kesulitan untuk mendapatkan alamat rumah aspirasi karena ia juga ditemani oleh
koresponden yang memberikannya info awal. Setelah bertanya kesana kemari
akhirnya mereka menemukan tempat yang dimaksud. Rumah aspirasi itu terbuat dari
kayu berbentuk rumah panggung. Tampak depan sangat mewah karena pintu besarnya
terbuat dari kayu jati. Rumah aspirasi tersebut di topang oleh 18 tiang. Di
atas pintu utama tertulis jelas, “Aspirasi”. Photografer mulai sibuk memotret rumah aspirasi dari berbagai sudut.
Pabbicara, photographer
dan kurirnya menaiki tangga. Mereka diterima oleh seorang laki-laki hitam, berkumis,
dengan wajah yang bersih. Pabbicara menduga pria itu tentu seseorang yang
ditugaskan menjaga rumah aspirasi, atau setidak-tidaknya kepala bagian rumah
tangga rumah aspirasi. “Assalamu Alaikum,” sapa Pabbicara.
“Wa Alaikummussalam.
Silahkan duduk Pak ! Mungkin ada keperluan yang bisa saya bantu.”
“Saya Pabbicara, wartawan
Ibukota. Kami ingin melakukan peliputan tentang rumah aspirasi ini,
kegiatan-kegiatan yang dilakukan di rumah aspirasi ini dan kesempatan wawancara
dengan anggota dewan yang telah membangun rumah aspirasi ini. Kami pastikan
tulisan tentang ini nantinya sangat ditunggu-tunggu publik.”
“Saya belum paham maksud
kedatangan bapak-bapak ini”
“Kapan rumah aspirasi ini
mulai dibangun, Pak ?” tanya Pabbicara.
“tepatnya empat bulan yang
lalu dan baru selesai minggu kemarin.”
“Boleh tahu berapa dana
yang dihabiskan untuk merampungkan rumah aspirasi ini ?”
“Kurang lebih Rp. 200 juta
termasuk eksterior dan segala perabotan di dalamnya.”
“Bagaimana proses
pencairan dana APBN untuk membangun rumah aspirasi ini?” tanya Pabbicara
semakin dalam menyelidiki.
“Saya tidak mengerti
maksud bapak.”
“Rumah aspirasi ini
dibangun dengan biaya APBN kan…?” tanya Pabbicara lebih jauh menginterogasi.
“Rumah ini saya bangun
dengan uang halal dari hasil penjualan tanah warisan orang tua dan hasil usaha
saya selama bertahun-tahun,” jawab tuan rumah mulai tersinggung.
“Ooh Bapak pemilik rumah
aspirasi ini. Boleh tahu Bapak siapa?”
“Saya, Aspirasi…!”
“Nama Bapak….?” Tanya
Pabbicara minta kejelasan
“Nama saya, Aspirasi.
Lengkapnya, dr. Aspirasi Muhammad Nganro”
“Maaf…..Permisi
Pak……Assalamu Alaikum……” ????????????????????
MENCARI DALAM MIMPI
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
07.16
Jumat, 17 Januari 2014
Suatu hari yang tak terlupa
Di persimpangan arus mayapada
Mawar penuh luka menyapa
Bercerita runtut tentang dirinya
Ia cantik
menarik
mandiri
dan menyendiri
Sikapnya menyenangkan hati
tuturnya menarik penuh arti
senyumnya menggoda hati
membuatku betah menghabiskan hari
Tak terasa malam melesat ke larut
Ia pamit dan berlalu
Pergi membawa serta cintaku.
Seperti angin laut
membelai dan berlalu
menyisakan tapak desirnya.
Aku mencarinya dalam mimpi
dan tiap kali terbangun
aku menemukan wanita yang sama
wanita yang menjaga waktuku.
Jakarta, 18/1/2014
Di persimpangan arus mayapada
Mawar penuh luka menyapa
Bercerita runtut tentang dirinya
Ia cantik
menarik
mandiri
dan menyendiri
Sikapnya menyenangkan hati
tuturnya menarik penuh arti
senyumnya menggoda hati
membuatku betah menghabiskan hari
Tak terasa malam melesat ke larut
Ia pamit dan berlalu
Pergi membawa serta cintaku.
Seperti angin laut
membelai dan berlalu
menyisakan tapak desirnya.
Aku mencarinya dalam mimpi
dan tiap kali terbangun
aku menemukan wanita yang sama
wanita yang menjaga waktuku.
Jakarta, 18/1/2014
ISAK TANGIS IBU PERTIWI
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
18.47
Minggu, 12 Januari 2014
Kulihat Ibu Pertwi, Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang, Emas intanmu terkenang.
Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa.
Lagu kebangsaan itu sering kunyanyikan ketika masih sekolah dulu. Aku tidak
memahami maknanya, tetapi alunan nadanya sangat menyentuh hati. Kini ketika
dewasa dan mulai bersentuhan dengan situasi bangsa dan negara yang kucintai
ini, tampaklah bahwa kesusahan Ibu pertiwi bukan sekedar alunan lagu, melainkan
sungguh kesusahan yang membuat lara, merintih hingga berlinang airmata. Tetapi
Ibu Pertiwi adalah ibu sejati yang tetap mendoakan anak-anaknya. Aku mulai
bertanya, apa yang menyusahkanmu Ibu Pertiwi ? Bukankah kekayaanmu begitu berlimpah
dengan hutan, gunung, sawah dan lautan yang menyimpan kekayaan yang tak
terhingga. Adakah karena usiamu semakin menua ? Atau khawatir tanah pusakamu
tidak terolah dengan baik oleh anak-anakmu ? Atau mungkin anak-anakmu mulai
bertingkah nakal dan tidak menuruti nasehat-nasehatmu ? kalau bukan karena
demikian, mengapa engkau bersusah hati hingga menangis terisak-isak ?
Dalam perenunganku yang dalam kutemukan jawaban ketika Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono pada tanggal 28 Januari 2013 menandatangani Instruksi
Presiden No. 2 Tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri.
Rupanya isak tangis Ibu Pertiwi sampai juga menembus dinding Istana dan
menggema di telinga Presiden. Ibu Pertiwi selama ini ternyata sangat tidak
bahagia dengan segala kekayaannya. Hatinya teriris dan sangat kecewa melihat
anak-anaknya rusuh dimana-mana. Di Aceh, Ambon, Poso, Papua, lampung dan di
berbagai tempat lain mereka saling membunuh tanpa menghiraukan jerit histeria
Ibu Pertiwi. Ibu Pertiwi sungguh sedih menyaksikan kehidupan keluarga besarnya
penuh pertentangan dan perbedaan pendapat, saling menyerang dan saling
menyalahkan. Bahkan hanya untuk urusan pemilukada yang telah jelas aturan
mainnya, dan jelas hasilnya saja mereka masih bertentangan hingga melibatkan
banyak orang pengikutnya.
Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2013 ditujukan kepada Menko Polhukam Djoko
Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Mendagri
Gamawan Fauzi, Jaksa Agung Basrif Arief, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, Kepala
BNPT, para Gubernur, para Bupati dan walikota. Siapapun yang menerima instruksi
ini seakan mendengar isak tangis Ibu Pertiwi yang memaksa para pejabat tersebut
terlibat secara sungguh-sungguh mendamaikan dan merukunkan kembali keluarga
besar Ibu Pertiwi.
Menko Polhukam sebagai Ketua Tim Terpadu Tingkat Pusat segera menyusun
rencana aksi terpadu nasional sekaligus meyakinkan beberapa pihak yang menentang
Inpres ini bahwa anak bangsa ini tak boleh lagi membiarkan isak tangis Ibu
Pertiwi berlarut-larut. Memang tidak tertutup kemungkinan ada orang atau
kelompok yang sengaja ingin membuat Ibu
Pertiwi terus berderai air mata. Siapapun dia dan dari kelompok manapun wajib
kita sadarkan. Apapun tantangan publik, keluarga besar Ibu Pertiwi harus
disatukan kembali. Untuk itu selain Menko Polhukam, kepada Gubernur, Bupati dan
Walikota juga diminta untuk membentuk Tim Terpadu Tingkat Daerah. Ini dilakukan
agar benturan-benturan sosial yang terjadi di daerah dapat segera diredam
sedini mungkin sebelum bereskalasi menjadi persoalan nasional.
Dalam Rapat Evaluasi Pelaksanaan Rencana Aksi Penanganan Gangguan Keamanan
Dalam Negeri Tahun 2013 ditemukan fakta bahwa 70 persen penyebab gangguan
keamanan dipicu oleh sengketa lahan/tanah. Ini rupanya yang membuat Ibu Pertiwi
terisak-isak melihat anak-anak bangsanya saling tikai memperebutkan lahan tanpa
memperdulikan akibat-akibat ikutannya. Rapat Evaluasi juga menemukan masih ada
saja provinsi yang tidak memperdulikan tangisan Ibu Pertiwi
”Kini Ibu sedang lara, Merintih dan berdoa”
Wahai Ibu Pertiwi yang kami cintai ! Kini anak-anakmu, atas amanatmu telah
berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan segala pemikiran untuk mengobati duka
laramu. Sebentar lagi Ibu akan melihat senyum lepas anak-anak negeri membangun
tanah pusakamu, hingga emas dan intan yang menjadi kenanganmu kembali
tergenggam di tangan terampil dan cekatan anak-anakmu.
Wahai Ibu Pertiwi yang kami banggakan ! Doa-doa yang kau panjatkan dalam
rintihan isak tangismu sedikit demi sedikit mulai diijabah oleh Allah. Alhamdulillah
pada tahun 2013 ini hampir tak ada lagi konflik-konflik sosial antar anak
bangsa yang menelan korban sia-sia. Kerukunan hidup anak-anakmu mulai terajut
kembali sebagaimana cita-cita yang kau titipkan pada kami. (Telah dimuat di
Majalah Nusa Khatulistiwa).
Jakarta, Januari 2014
KETIKA MONAS BERWAJAH MURUNG
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
23.55
Jumat, 10 Januari 2014
Namanya
Monumen Nasional. Siapapun tahu ia adalah anak kandung nasionalisme Indonesia.
Sebagaimana aku, hampir semua orang memanggilnya Monas dan ia cukup merasa nyaman
dengan nama panggilan itu. Sejak lahir aku telah mengenalnya, setidak-tidaknya
mengenal namanya. Ia tak pernah mengunjungiku, walaupun aku seringkali
mengunjunginya. Ia memang sangat bangga berada di tempatnya, tetapi bukan
berarti ia sombong dan tidak peduli dengan yang lainnya. Matanya tak pernah
istirahat melihat dan mengamati suasana di sekitarnya. Begitu banyak yang
mengagumi dan menyebut-nyebut namanya, tetapi hingga saat ini ia tetap memilih
untuk hidup sendiri. Alasannya sangat sederhana, ia tak ingin dimiliki oleh
hanya seseorang atau sekelompok etnis tertentu. Ia lebih bangga menjadi milik
semua orang.
24
tahun terakhir ini kami sangat bersahabat, lebih bersahabat dibandingkan yang
lain. Ia satu-satunya sahabat yang tidak pernah berubah bahkan nyaris tak
tampak dimakan usia. Tubuhnya tetap tinggi, ramping dan kokoh. Bentuk kepalanya
agak oval dengan rambut kuning kebanggaannya. Kemilau rambutnya semakin indah
saat matahari menyiramkan cahayanya. Aku hafal betul kebiasaan, kesenangan dan
hal-hal yang bisa membuatnya gundah. Bagaimana tidak. Aku mengetahui
hari-harinya sebagaimana ia mengetahui hari-hariku tiap kali melintas di jalan
Medan Merdeka Barat tempat dimana aku bekerja.
Sore
itu, Jumat, 10 Januari 2014 aku melihatnya lain daripada biasanya. Air yang
mengucur dan membasahi wajahnya, bukan hanya bekas tetesan air hujan yang siang
itu memandikan bumi. Tetesan air itu telah bercampur dengan peluh dan airmata
Monas. Tak ada seorangpun yang memperhatikan airmata itu karena Monas sengaja
menumpahkan tangisannya ketika hujan turun deras. Ia tak ingin orang-orang yang
menguguminya ikut bersedih. Tetapi aku sungguh tahu kesedihan itu. Aku tahu ada
air mata dan peluh yang bercampur dengan air hujan. Itu tampak sekali dari
kemurungan wajahnya. “Apa yang membuatmu sedih sahabatku ?”
“Mendekatlah,
Bung Komar. Jangan biarkan orang gusar
dengan obrolan kita,”
“Ada
seorang anak manusia, sumber daya potensial bangsa ini pernah berjanji di
hadapan khalayak bahwa jika ia melakukan hal-hal sebagaimana disangkakan
kepadanya, maka ia minta di gantung pada badanku yang tinggi dan kokoh ini. Aku
sempat terperanjat dan bertanya, “mengapa aku?”
“Kau
keberatan Sahabatku..?”
“Apa
arti keberatanku, Bung Komar. Kalau mereka menginginkan, badanku tak pernah
bergeser dari tempatnya. Bersedia ataupun tidak bersedia, badanku memang
sesuatu yang tersedia. Leherku cukup kuat menahan tali gantungan. Tetapi ketika
itu semua berlangsung bukan berarti semua persoalan selesai. Janji memang telah
ditunaikan. Tapi pada saat yang sama persoalan
diriku baru dimulai.”
“Apa
persoalanmu sahabatku..?”
"Setelah
kejadian itu, orang tak lagi mengenalku sebagai Monas, tetapi sebagai tiang
gantungan koruptor. Kau pikir aku bangga dengan julukan itu ? Kau pikir aku
berharap semua itu terjadi ? Tanyanya dengan suara meninggi."
“Jadi
apa yang kau harapkan sahabatku..?”
“Aku
berharap, dia yang terlanjur berkata, berjanji, dan bersumpah itu mau menarik
perkataan, janji, dan sumpahnya di hadapan publik.”
“Kalau
ia bersikeras tak mau menarik kata-katanya ?”
“Aku
berharap proses hukum pada dirinya tidak membuktikan bahwa ia adalah seorang
koruptor.”
“Kalau
terbukti…! Bagaimana sahabatku ?”
Jakarta, 11/i/2014
Langganan:
Postingan (Atom)
Poll
Total Pageviews
Categories
- artikel (10)
- Bung Safety (1)
- Catatan (23)
- Cerpen (3)
- essay (27)
- Kenakalan Kreatif (4)
- Monolog (2)
- Perjalanan (5)
- Pidato (4)
- PUISI (33)
- Resensi (5)
- Serial Kecelakaan Transportasi (8)
- Suma menagih tuhan (14)
- Surat-Surat (9)
Popular Posts
-
Bismillahir Rahmanir Rahim Assalamu Alaikum Wr.Wb. 1. Syukur kita panjatkan ke khadirat Allah SWT yang telah memberikan se...
-
Assalamu Alaikum Wr. Wb. Selamat datang teman teman semua. Terimakasih telah menyempatkan waktu di tengah kesibukan kita masing...
-
Pada Hari Rabu, 27 Februari 2013 sekitar pukul 07.30 WIB sebuah mobil Nissan, Bus Pariwisata PO.Mustika Mega Utama dengan flat kuning b...
-
Dalam kesempatan dinas mengunjungi ibukota Provinsi Sulawesi Utara, Manado, aku sudah disuguhi pengalaman yang seperti wajib untuk dibagi...
-
Assalamu Alaikum Wr.Wb. Semua di antara kita pernah diam, tetapi kita tak pernah memperhatikan atau mencatat “diam” sebagai bagia...
-
Sebulan sebelum pernikahan putra pertamaku, aku mendengar istri, anak dan calon menantuku tengah berdiskusi hangat tentang souv...
-
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM ASALAMU ALAIKUM WR. WB. Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan...
-
Namanya, RR. Sri Wahyu Handayani, biasa disapa dengan panggilan akrab, Yenny. Kecantikannya tidak diragukan, kulitnya putih, ramb...
-
Kenali perbatasan negaramu, maka kau akan mengenali bentuk, situasi dan keadaan beranda terdepan negaramu. Siapapun yang melintasi perb...
-
Sembilan tahun tulisan ini kuendapkan Tak ada niat sekalipun untuk mempublikasikannya, karena setiap alinea tulisan ini kulalui deng...
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Labels
- artikel (10)
- Bung Safety (1)
- Catatan (23)
- Cerpen (3)
- essay (27)
- Kenakalan Kreatif (4)
- Monolog (2)
- Perjalanan (5)
- Pidato (4)
- PUISI (33)
- Resensi (5)
- Serial Kecelakaan Transportasi (8)
- Suma menagih tuhan (14)
- Surat-Surat (9)


