Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

ORANG BIASA DALAM KEHIDUPAN SOEHARTO

Selasa, 03 Januari 2017


Buku “Pak Harto, The Untold Story” telah diluncurkan pada 8 Juni 2011 lalu, bertepatan tanggal kelahiran mantan Presiden Soeharto, 90 tahun yang lalu. Banyak ceritera sukses dan ceritera miris tentang kepemimpinan SoeharTo selama 32 tahun berkuasa. Setiap orang melukiskan tentang beliau sepanjang yang mereka ketahui dari sudut pandang mereka sendiri. Tokoh-tokoh sejarah memang selalu memiliki banyak dimensi untuk diulas, tetapi kisah-kisah dalam buku “Pak Harto The Untold Story” menampilkan sisi lain dari keseharian Pak Harto yang mungkin luput dari amatan para jurnalis dan penulis-penulis biografi beliau.



Salah satunya sketsa hidup seorang biasa yang bernama Munari Ari. Ia bukan menteri, ajudan atau orang dekat Presiden RI kedua Soeharto. Tahun 1980-an ia hanyalah seorang seniman jalanan alias pengamen. Kawasan operasinya mulai perempatan Megaria hingga depan kampus Universitas Indonesia di Salemba. Dan jika malam tiba, ia kerap menumpang tidur di depan kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

 Saat-saat ia sedang memainkan gitarnya, menyanyikan dua atau tiga lagu untuk mendapatkan kumpulan recehan dari mereka yang mendengar dan peduli, Munari Ari kerap terpaksa harus menghentikan petikan gitarnya ketika iringan mobil mewah melintasi jalan dimana ia mencari nafkah. Manuari Ari hafal betul kalau iringan-iringan mobil yang membuatnya takjub tersebut akan melintas setiap hari Rabu dan Jumat pada jam yang sama. Iringan mobil yang dikawal Pasukan Pengamanan Presiden ini membawa Pak Harto ke lapangan golf Rawamangun. Biasanya sebelum matahari terbenam, rombongan kembali melintas pulang.

 Bukan sekali dua kali Ari dan sahabatnya Herman Obos mencoba nekat mendekat ke bibir jalan untuk melihat rombongan lebih jelas. Namun pengamanan sangat ketat. Ia kerap diusir, bahkan pernah nyaris ditempeleng.

 Pada hari Jumat di pertengahan 1986, Ari dan Obos, berhasil lolos dari pantauan aparat. Di seberang Restoran Sasa kawasan Salemba, mereka berdua berbaris tegak rapat sejajar. Masih memegang gitar dan biola, dengan sikap sempurna begitu mobil Pak Harto melintas, mereka mengangkat tangan untuk memberi hormat.

 ‘Upacara’ tanpa bendera ini rutin mereka lakukan setiap kali rombongan Presiden melintas. Setelah sebulan berlalu, Ari dan Obos merasa setiap kali lewat depan RSCM, rombongan mobil Presiden berjalan lebih lambat. Bulan berikutnya, terjadi hal yang tidak terduga. Saat Ari dan Obos melangsungkan acara penghormatan rutin, mobil dengan plat RI 1 berjalan makin pelan dan bahkan mendekat.

Sejurus kemudian tepat di depan mereka, kaca hitam jendela belakang mobil diturunkan perlahan dan muncullah senyuman khas Soeharto. “Seketika itu juga, saya dan Obos memberi hormat dan berseru, ‘Selamat siang, Paaaak!’.”

 Pak Harto seperti biasa tersenyum dan mengangguk. Sejak kejadian itu, polisi tidak pernah lagi mengusir Ari dan Obos yang makin giat menghormat setiap rombongan lewat.

Dan, siapa mengira kegiatan nekat dua remaja ini mengubah hidup mereka kelak. Terkesan dengan aksi dua pengamen ini, Pak Harto pun mengutus putri sulungnya Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut mencari dua remaja itu. Bukan main senangnya Ari dan Obos saat itu. Mereka diajak ke Cendana, bahkan ikut menyumbangkan dua lagu di hari ulang tahun pernikahan Pak Harto dan Bu Tien.

 Dia juga dikontrakkan rumah di kawasan Kramat, Jakarta Pusat. Sandang pangan tercukupi. Sampai akhirnya ia merasa tidak bisa hanya menerima uluran tangan terus. Ia pun melamar kerja di salah satu perusahaan milik Tutut. Namun tahun 2000 ia memutuskan keluar. Kini Ari sukses menjalankan usaha biro jasa miliknya sendiri.


 Hanya untuk mengingatkan kembali.
Tulisan ini pernah di muat di 
www.polkam.go.id. 18/2/2016

MIGRASI ORANG-ORANG BUGIS DI BALI

Jumat, 16 Desember 2016
Kemarin saya mendapatkan sebuah buku terbitan Larasan di Denpasar Bali berjudul, “Perahu Pinisi di Pessir Bali” karya I Putu Gede Suwitha yang mendapat rekomendasi  dari  Dinas Pendidikan  Pemuda dan Olahraga, Pemerintah Provinsi Bali sebagai buku bacaan muatan lokal  SD dan SMP di Provinsi Bali. Pertama-tama saya tentu saja harus memberikan apresiasi yang begitu tinggi kepada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali serta  Balai Bahasa Denpasar yang juga menetapkan buku, “Perahu Pinisi di Pesisir Bali” ini sebagai buku pengayaan muatan lokal sebagai buku nonteks pelajaran yang layak untuk menjadi bahan bacaan bagi siswa di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sungguh timbul kecemburuan kultural mengapa buku ini dapat menjadi muatan lokal di Bali, sementara di Sulawesi Selatan sendiri tempat dimana kebudayaan bugis Makassar berasal tidak kita temukan buku seperti ini. Rindu rasanya Dinas-dinas di provinsi Sulawesi Selatan juga giat merekomendasikan penerbitan buku-buku yang berisi sejarah dan budaya lokal di Sulawesi Selatan.



Buku, “Perahu Pinisi di Pesisir Bali” sesungguhnya tidaklah menyajikan hal-hal yang baru bagi sejarah perantauan suku Bugis-Makassar. Kisah perantauan Bugis-Makassar hampir terdapat di semua wilayah Nusantara. Bahkan, dapat dikatakan bahwa dimana ada pantai tempat tambatan perahu, disitu pasti terdapat masyarakat Bugis. Namun sebagai migro historis, buku ini patut dibaca dan dicatat sebagai bagian dari pengetahuan sejarah nasional dan gerak migrasi masyarakatnya di Nusantara.

Buku ini sendiri membahas secara rinci tentang (1) Kapan orang-orang Bugis memasuki perairan Bali. (2) Apakah latar belakang dan sebab-sebab orang Bugis merantau. (3) Mengapa mereka dapat masuk ke dalam struktur birokrasi kerajaan-kerajaan di Bali, padahal mereka adalah golongan minoritas. (4) Peranan apa saja yang dapat mereka mainkan di tempat mereka yang baru. (5) Sejauh mana pengaruh orang-orang bugis pada masyarakat Bali.

Orang-orang Bugis mulai merantau ke Bali sejak pertengahan abad ke-17. Konflik antar kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan menyebabkan golongan perantau bertambah. Puncaknya terjadi setelah peperangan antara kerajaan Makassar dengan Belanda, yang diakhiri dengan Perjanjian Bungaya tahun 1667. Setelah masa inilah gelombang perantau bugis mengalir ke beberapa wilayah Nudantara, salah satunya ke Bali. (hal.4)

Peranan dan campurtangan orang-orang Bugis sebagai golongan minoritas dalam kehidupan kerajaan-kerajaan di Bali terutama pada abad ke-19 sangatlah menonjol di kerajaan-kerajaan yang mempunyai perairan atau basis pelayaran laut, seperti Kerajaan Buleleng, Kerajaan Badung, dan Kerajaan Jembrana. Di kerajaan-kerajaan Pantai yang befrasis pelayaran laut, memberi kesempatan besar kepada orang-orang bugis mengembangkan bakat pelayaran niaganya sekaligus mengembangkan kemampuan dan keberanian pelayaran bugis melayari perairan Nusantara. Tidak heran jika orang-orang Bugis mengambil peran penting dalam pimpinan kemiliteran di kerajaan-kerajaan pantai tersebut.

Sejarah perjuangan kerajaan-kerajaan di Bali mencatat bahwa hampir dalam setiap perebutan tahta kerajaan, orang-orangBugis mengambil bagian. Biasanya akan dijadikan sekutu oleh salah satu pihak yang berselisih, dan biasanya orang-orang Bugis lebih memilih berpihak dan membela kerajaan-kerajaan yang tertindas (hal. 100).

Cukup banyak peran dan pengaruh orang-orang Bugis terhadap masyarakat Bali pada umumnya. Salah satunya adalah soal keberanian dan pengetahuan pelayaran dan tehnik-tehnik pertempuran di  laut serta cara-cara hidup berkelompok. Bagaimanapun buku ini sangat penting untuk semakin memahami bagaimana latar belakang budaya migrasi bugis ke wiulayah Nusantara dan peranan-peranan yang dimainkan di setiap daerah baru yang mereka datangi.

ANAK KUKANG (ANAK SEBATANGKARA)

Rabu, 30 November 2016


“Ada apa dengan lagu “Anak kukang”. Mengapa setiap kali aku mendengarnya, hatiku serasa teriris-iris dan tanpa sadar meneteskan air mata. Ingatanku selalu saja pada anakku yang lenyap terhempas gelombang tsunami.  Adakah pesan mistis atau misterius pada lyrik lagu dan alunan musiknya ?” begitu Teuku Sahrir  tiba-tiba bertanya saat menelponku di suatu malam.

            Tiga pekan lalu Teuku Sahrir bertamu ke rumahku. Dua malam kami habiskan waktu berceritera tentang banyak hal sambil mendengarkan musik lagu-lagu daerah, salah satunya lagu makassar ciptaan Bora Dg. Irate, berjudul, “Anak kukang”. Lagu tersebut begitu terkesan baginya sehingga ia meminta diulang-ulang. Ketika akan kembali ke Aceh, ia memohon agar DVD lagu tersebut diberikan padanya sebagai kenang-kenangan. Saya tentu saja bangga ada seorang bangsawan Aceh yang senang dengan irama lagu Makassar, sehingga saya dengan senang hati  memberikannya.

Bagaimana aku harus menjelaskan pertanyaan sahabatku ini ? ia sepertinya sangat mengharapkan jawaban. Sebelum aku jelaskan, terlebih dahulu aku translate lyrik lagu tersebut ke dalam Bahasa Indonesia :

Kukana tuni pela tuni buang ritamparang 
(ku kisahkan diriku yang terbuang, yang di hanyutkan di sungai)

kuni ayukkan rije'ne narampung tau maraeng
 (Saat aku terhanyut, ku ditemukan oleh Orang lain)

Caddi caddi dudu in'ja nana pellaka anrongku
(Aku masih sangat kecil, saat ibu membuangku)

Mantang mama ka'leka'le tu'guru je'nne matanku
(Tinggallah aku sebatang kara, bercucuran air mataku)

Aule sa'resa're na i kukang sayang
(aduhai diriku nasib Sianak sebatang kara)

Sa're tenama kucini lino empo tenama te'nena
(Nasib yang tidak aku inginkan).

Aule sa'resa're na i kukang sayang
(aduhai diriku nasib Sianak sebatang kara)

Sa're tenama kucini lino empo tenama te'nena
(Nasib yang tidak aku inginkan).


            Menyimak isi lyrik lagu Anak Kukang, tidak banyak ceritera yang terungkap. Tidak jelas bagaimana awalnya ia hidup sebatangkara dan mengapa ia harus dihanyutkan ke sungai, Namun irama lagu dan gerak musiknya seperti berceritera banyak,  yang hanya bisa dirasakan ketika seseorang mendengar alunan lagunya dengan  sungguh-sungguh, dan masuk dalam pusaran gelombang iramanya.

            Dengan hati-hati aku coba menjelaskan makna lagu “Anak kukang”. Pertama-tama aku bertanya padanya, “Percayakah Teuku ada seorang ibu yang sanggup membuang anak yang ia lahirkan  dengan alasan apapun ?” Tidak seorang wanitapun yang mampu membuang anaknya kecuali untuk menyelamatkannya. Kemudian aku membawa ia pada kesilaman. Ingatkah sebuah ceritera historis dan religious yang termaktub dalam Kitab Suci Al Qur’an ? Ceritera tentang kelahiran Nabi Musa AS.

                  Nabi Musa dilahirkan di Negeri Mesir pada masa pemerintahan Raja Firaun. Raja Firaun seorang raja yang lalim dan kejam. Waktu itu dikeluarkan undang-undang apabila ada bayi lahir laki-laki, harus dibunuh dan apabila lahir bayi wanita dibiarkan hidup saja. Ketika Musa lahir, ibunya takut dan khawatir Musa akan dibunuh oleh Firaun. Cepat atau lambat kelahiran Musa pasti akan diketahui pihak kerajaan. Untuk menyelamatkan Musa dari pembunuhan, ibunya menaruh si kecil Musa di dalam peti kemudian dihanyutkan ke sungai Nil. Akhirnya, peti yang berisi bayi itu ditemukan oleh Asyiyah istri Firaun. Asyiyah memohon kepada suaminya agar bayi itu tidak dibunuh, tetapi dijadikan anak angkat saja. Seperti diketahui kemudian, ibunya jugalah sebagai induk semang yang merawat Musa hingga tumbuh besar dan menghancurkan kekuasaan Firaun.

               Ingat jugakah Teuku ceritera tentang Sawerigading, sebuah sejarah turunnya manusia pertama di Luwu yang beberapa orang menganggapnya sebagai ceritera legenda. Terkisah We Cudai, wanita yang dicintai sawerigading hamil tanpa mengetahui siapa yang menghamili. Ia mengurung diri di biliknya hingga melahirkan seorang anak lelaki bernama Lagaligo. Karena takut malu, bayi tersebut dihanyutkan di sungai. Sawerigading kemudian menemukan bayi tersebut yang ternyata adalah anak biologisnya. Singkat ceritera akhirnya Lagaligo berhasil menyatu kembali dengan ibu yang telah membuangnya.

             Ingat pula ceritera dongeng dari rakyat Sumatera Utara berjudul, “Si Tanduk Panjang”. Sepasang suami istri sangat mendambakan seorang anak lelaki. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya doanya terkabul. Istrinya melahirkan seorang anak lelaki, tetapi sayang kepalanya bertanduk. Karena malu dan khawatir menjadi cemoohan orang nantinya, maka orang tua tersebut membuang anaknya dengan menempatkannya dalam sebuah peti, lalu menghanyutkannya ke sungai. Kakak perempuannya tidak tega melihat adiknya dihanyutkan. Ia terus mengikuti adiknya hingga menjauh dari desa asalnya. Setelah menepi dan mendapatkan adiknya tidak bertanduk lagi. Singkat ceritera anak tersebut kembali ke orang tuanya dengan membawa kekayaan yang berlimpah.

            Itulah beberapa kisah anak yang dibuang dengan menghanyutkannya di sungai. Mungkin masih banyak ceritera lain yang sejenis dengan latar belakang dan atmosfir yang berbeda-beda. Kembali pada lagu, “Anak Kukang”, silahkan sahabatku Teuku Sahrir menginterpretasikan sendiri mengapa anak kukang itu dibuang dan dihanyutkan oleh ibunya. 

Lagu “Anak Kukang” itu sendiri berkisah tentang suasana hati seorang anak kecil yang dihanyutkan. Ia masih kecil, belum punya kemampuan mengatasi persoalan dirinya sendiri. Kini dia dihanyutkan, hanya sendiri tanpa siapa-siapa. Di langit dan di kanan kirinya tak tampak siapa-siapa (mantang mamo kale kale), bahkan ikan-ikan pun tak tahu ada dirinya dalam aliran sungai yang sama. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara tangisannya sendiri. Air matanya jatuh bercucuran. Si anak kecil terus mengisahkan dirinya yang sebatangkara. Sebuah nasib yang tidak ia kehendaki. Sungguh bukan keinginan Si Anak Sebatangkara untuk menjadi sebatangkara. Tentu kemudian ia tak lagi sebatangkara ketika orang lain menemukannya. Akan lain ceritera jika si Anak sebatangkara itu tak ditemukan orang lain. Ia tentu akan terus sebatangkara hingga ke hulu sungai dan kemudian berakhir di lautan lepas.

Ceriteraku tak berputus hingga aku menyadari sedang berbicara dengan Teuku Sahrir di telepon, “Hallo….Teuku….” sapaku untuk memastikan apakah ia masih mendengarku.

“Makasih Bang Bungko,” jawabnya dengan isak yang tertahan. Lalu telepon di seberang sana terputus, menyisakan hening.


Jakarta, 1 Desember 2016