Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

KENALI TAKSI DI BANDARA SAM RATULANGI

Minggu, 18 September 2016

Dalam kesempatan dinas mengunjungi ibukota Provinsi Sulawesi Utara, Manado, aku sudah disuguhi pengalaman yang seperti wajib untuk dibagikan kepada semua orang, terutama kepada mereka yang akan berkunjung ke kota Manado yang terkenal dengan ikon 3B (Bunaken, bubur Manado, dan Bibir Manado), beberapa orang menambahkan menjadi 5B dengan tambahan Boulevard dan Bandaranya. Mengapa bandara ?

Jika anda tiba di bandara Sam Ratulangi, Manado, pastikan ada sanak keluarga, handai taulan ataupun teman yang menjemputmu. Kalau tidak, anda tidak punya pilihan lain selain berhadapan dengan taksi-taksi di bandara (tidak etis menyebut nama-nama perusahaan taksinya) yang akan mengenakan tarif di luar perkiraanmu.

Para supir taxi dengan ramah menawarkan taksinya. Jika anda tidak menolak, mereka langsung mengangkat dan memasukkan barang-barangmu ke dalam bagasi. Berjalan 10 meter, barulah kita sadar bahwa argometer tidak berjalan dan mulailah tawar menawar. Mereka umumnya menawarkan harga Rp85.000 hingga 120.000 dari bandara masuk ke kota Manado. Anda sudah terjebak ke dalam perangkapnya. Kalaupun anda ngotot meminta menjalankan argometernya dengan mengancam akan turun dari taxinya, barulah ia bersedia menjalankan argokudanya dan hasil akhirnya sama juga. Sopir-sopir itu juga terkenal dengan julukan argomulut, begitu kita naik taksi kita rasakan mulutnya beraroma minuman keras. Tarif taksi sebenarnya dari bandara ke dalam kota hanya berkisar Rp.40 ribu s.d. Rp.50 ribu.

Apakah tidak ada taxi lain ? Ada Blue Bird taksi, tapi otoritas bandara menerapkan kebijakan diskriminatif, melarang armada taksi lain beroperasi dalam areal bandara. Walikota Manado sudah berjanji akan memanggil PT Angkasa Pura agar mengizinkan taksi lain ikut beroperasi di wilayah publik, bandara. Tapi nyatanya Blue bird belum diizinkan mengambil penumpang di bandara. Bisa jadi otoritas bandara telah mengizinkan tetapi para supir taksi bandara melarangnya, dan otoritas tidak mau tahu apa yang terjadi.

Menurut ceritera salah seorang sopir taksi Blue bird, mereka seringkali dilempari jika mengambil penumpang di bandara, padahal mereka ke bandara karena ditelepon oleh pelanggan. Sebenarnya yang kasihan adalah masyarakat yang membutuhkan taksi yang sesuai tarif. Untuk tetap pelayani permintaan pelanggan/penumpang, manajemen Blue Bird mengirimkan mobil silver flat hitam ke bandara untuk menjemput pelanggan dengan tarif yang sama dengan Blue bird flat kuning.

Kepada anda yang akan berkunjung ke Manado tetapi tidak punya sanak saudara atau teman untuk menjemput. Saya sarankan jika barang bawaan anda tidak banyak, lebih baik jalan kaki sedikit ke luar gerbang bandara dan menunggu taksi Blue Bird di sana. Atau pergunakan jasa Ojek motor yang ongkos masuk ke dalam kota Manado berkisar Rp. 25.000,- s.d. Rp. 30.000. kalau barang bawaan anda cukup banyak dan tidak muat untuk satu ojek motor, saya sarankan anda menelepon taksi Blue Bird ke nomor 0431-861234, setelah itu bersabarlah menunggu sekitar 10 sampai 15 menit. Sementara menunggu anda bisa minum kopi dan makan-makan ringan yang harganya relative murah untuk ukuran harga makanan di bandara.

Mohon maaf, catatan pengalaman ini terjadi 7 tahun yang lalu. Berharap semua hal telah berubah.


MENIKMATI PENSI DI NAGARI KOTO KACIAK

Senin, 22 September 2014


Dua puluh tahun lebih aku mendambakan mendapat tugas di tanah Minangkabau, Sumatera Barat tetapi tak pernah kesampaian. Bukan berarti tak pernah ada tugas-tugas kunjungan ke provinsi tanah kelahiran Prof Dr. Buaya Hamka tersebut. Mungkin nasib yang menentukan untuk aku bersabar dari obsesi tersebut. Wajarlah jika aku sangat menginginkan kunjungan ke Sumatera Barat, mengingat istri yang kunikahi 22 tahun yang lalu itu berasal dari Nagari Koto Kaciak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Empat tahun yang lalu keluarga besar istriku termasuk anak-anakku telah menyempatkan pulang ke tanah leluhurnya, sementara aku ada saja halangan untuk mengunjungi kampung halaman istriku.

Tidak henti-hentinya aku berdoa dan berharap untuk punya kesempatan mengunjungi kota Padang. Setelah dua puluh tahun lebih akhirnya kesempatan itu datang juga. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memintaku untuk memberikan materi pelatihan tentang media handling pada hari Kamis, 18 September 2014. Untuk moment ini aku harus berterimakasih kepada dua orang Marsekal, yaitu pimpinanku Agus R. Barnas dan ketua KNKT Tatang Kurniadi yang telah memberi peluang hingga aku dapat mengunjungi kota Padang.

Terimakasih pula pada sahabatku Maulana, pihak Event Organizer yang telah meminta salah seorang supirnya mengantarkanku ke Nagari Koto Kaciak. Setelah sholat jumat kami meluncur menyusuri jalan beraspal melintasi kabupaten Pariaman. Kiri kanan jalan dipenuhi area persawahan dan pohon-pohon kelapa serta rumah-rumah penduduk yang sederhana. Gerimis yang mengiringi perjalanan kami sangat membantu mengatasi panasnya daerah pesisir. Setelah melewati kabupaten Pariaman dan mulai masuk ke Kabupaten Agam segarnya alam pegunungan mulai terasa. Banyak desa-desa dengan nama aksen daerah yang kami lewati tetapi tidak dapat aku hafalkan namanya. Mobil terus meluncur memasuki Lubuk Basuang lalu melingkari danau terbesar kedua, danau maninjau. Begitu luasnya danau maninjau hingga hamparannya tampak bak lautan tak bertepi. Akhirnya jam 17.00 WIB kami membelok ke kiri memasuki jalan kecil lalu mendaki memasuki Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Aku memasuki rumah mertua yang lebih dari 12 tahun ditinggal merantau oleh penghuninya. Kini rumah itu ditinggali oleh adik iparku yang kebetulan memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Rumah kayu yang kokoh dengan enam belas jendela dan empat buah pintu. Pintu disini tidak selalu berarti tempat keluar masuknya penghuni. Ada juga pintu yang hanya berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara. Rumah ini dari pagi hingga sore hari seperti ruang terbuka yang membiarkan udara pegunungan keluar masuk. Rumah kayu tertata bersih karena tidak ada debu dan juga tidak dikhawatirkan adanya tikus dan serangga-serangga lainnya. Sungguh tempat yang sangat dekat dengan alam.

 Di atas meja kayu telah terhidang cemilan ringan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Namanya Pensi, sejenis kerang air tawar yang banyak terdapat di dasar perairan dangkal Danau Maninjau. Bentuknya seperti kerang mini, bercangkang dua dan simetris berwarna coklat kehitam-hitaman. Cangkangnya tipis dengan ukuran 1 hingga 2 sentimeter. Makanan pensi ini hanya ditumis dengan bumbu seadanya dan kuah berlimpah. Rasa kuahnya segar dan khas karena pensi ini banyak mengandung zat kapur dari cangkangnya.

Aku coba mencicipinya tetapi aku kesulitan membuka cangkangnya. Sementara sopir yang membawaku serta kemenakanku yang baru berusia 4 tahun terlihat mengitu serius menikmati pensi. Mereka telah menghabiskan sepuluh pensi sementara aku masih berkutat membuka cangkangnya. Aku perhatikan mereka hanya perlu menggigit sedikit lalu cangkang pensi membuka dan isinya mereka sedot dan emut. Setelah berhasil membuka dan menikmati pensinya baru aku rasakan sensasi rasanya, tetapi tetap saja kesulitan menikmatinya karena waktuku lebih banyak untuk membuka cangkang daripada menikmati pensinya.

Pensi sungguh adalah karunia yang diberikan Allah kepada penghuni sekitar Danau Maninjau, karena untuk mendapatkannya sangat mudah. Pengambilan pensi bisanya pada lepas subuh hingga matahari terbit. Pengambilannya cukup mempergunakan tangkuk dari atas sampan nelayan, atau bisa juga turun ke air danau lalu dengan mempergunakan kaki mengumpulkan pensi hingga menggunung lalu menyelam dan menyendoknya dengan alat tangkuk atau wadah penampung. Siapapun dapat melakukannya. Tetapi kalau anda tak punya waktu untuk mengambilnya di dasar danau, jangan khawatir karena setiap hari ada saja penduduk yang menawarkan pensi dengan harga yang murah.

Dua hari di Nagari Koto Kaciak benar-benar aku manfaatkan untuk belajar menikmati pensi. setelah berusaha mencoba dan mencoba terus akhirnya aku mulai terampil membuka cangkang dengan gigi depan dan menikmati daging pensinya dengan lezat. Ternyata keterampilan memakan pensi adalah perpaduan keterampilan memakan kerang dan memakan kuaci. Kalau tak percaya silahkan datang ke Maninjau untuk mencobanya sendiri.

tadinya aku akan membawa pulang Pensi sebagai oleh-oleh khas Nagari Koto Kaciak. Tetapi urung kulakukan karena untuk mengolahnya menjadi lauk pauk ataupun cemilan membutuhkan keterampilan tersendiri dalam memasaknya. Kalau anda salah dalam mengolahnya dapat berakibat batuk-batuk, dan memang mereka yang sedang batuk dilarang keras memakan pensi. Entah apa sebabnya, belum aku telusuri secara mendalam. Aku terima saja informasi itu sebagai sebuah kebenaran karena mereka yang berada di sekitar Danau Maninjau mengatakan demikian.

Nagari Koto Kaciak
21 September 2014

KAPAL SELAM DI TENGAH KOTA SURABAYA

Minggu, 24 Agustus 2014



Seusai memberikan materi pelatihan pada acara, “In House Training Aircraft Accident Investigation And Report Writing” yang diadakan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bekerjasama dengan Universitas Nurtanio Bandung, di salah satu hotel di Surabaya, 19 – 22 Agustus 2014, pihak event organizer berkenan mengantar kami ke bandara Juanda untuk segera kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan kami melintasi jalan pemuda yang bersih dan tidak begitu padat, di kiri jalan mataku tiba-tiba melihat sebuah kapal besar di tengah kota.


        “Itu adalah Monument Kapal selam Pasopati,” kata Sang Sopir ketika aku menanyakannya.

        Mendengar nama Pasopati minatku tiba-tiba menyerang keinginanku untuk melihatnya. “Kalau kita mampir 30 menit apakah kita tidak ketinggalan pesawat ?” tanyaku pada supir yang membawa kami.

        “Kita masih punya cukup waktu kalau bapak-bapak ingin mampir,” jawabnya.

        Akhirnya mobil kembali memutar dan memasuki area monument. Setelah membayar uang parkir Rp. 5.000,- dan membayar ongkos masuk Rp. 8.000,- perorang, aku bersama dua teman lainnya, Edy Sasongko Kepala Sub Komisi Kereta Api, KNKT dan Carmelia Sukmawati mantan wartawan di Istana negara pada masa pemerintahan Soeharto menaiki tangga dan masuk ke dalam Kapal Selam Pasopati.

        Ingatanku meluncur ke masa silam, masa ketika bangsa Indonesia harus terus berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaan. Segenap kekuatan bersenjata dikerahkan untuk mempertahankan agar tak sejengkal tanahpun dari negeri ini diganggu oleh pihak-pihak lain. Salah satu kapal selam yang mengambil peran penting itu adalah KRI Pasopati. KRI Pasopati dengan nomor lambung 410, termasuk jenis SS Type Whiskey Class yang dibuat di Vladi Wostok, Rusia pada tahun 1952. Masuk ke jajaran TNI-AL pada tanggal 29 Januari 1962 dengan tugas pokok menghancurkan garis lintas musuh, mengadakan pengintaian dan melalukan silent raids.

        Selama pengabdiannya, KRI Pasopati banyak berperan aktif menegakkan kedaulatan Negara dan hukum di laut yurusdiksi nasional dalam berbagai operasinya, antara lain Operasi Trikora pada tahun 1962 KRI Pasopati berada di garis depan memberikan tekanan psikologis terhadap lawan. Selain itu sejarah juga mencatat betapa KRI Pasopati telah memberikan banyak peranan penting dalam berbagai operasi yang dilaksanakannya. Seingatku KRI Pasopati dinonaktifkan dari jajaran TNI-AL pada tanggal 25 Januari 1990 yang ditandai dengan penurunan ular-ular perang dalam suatu upacara militer yang begitu khikmat dan penuh haru di ujung Surabaya.

        Bagaimana kapal selam yang heroik dan historis ini dengan panjang 76,6 meter, lebar 6,30 meter dengan berat kosong 1.050 ton ini bisa berada di tengah kota Surabaya dan menjadi monument kebanggaan bangsa. Menurut keterangan pemandu wisatanya KRI Pasopati dipotong-potong menjadi 16 blok di PT PAL Indonesia lalu dibawa ke lokasi untuk dirakit ulang hingga menjadi Kapal Selam Pasopati yang kembali utuh dan berdiri kokoh di tempatnya sekarang.

        Adalah mantan Gubernur Jawa Timur, Basofi Sudirman yang meletakkan batu pertama pembangunan monument kapal selam Pasopati ini pada tanggal 1 Juli 1995. Butuh waktu tiga tahun untuk membangun dan merakit kembali kapal selam ini, dan pada tanggal 27 Juni 1998 Bapak Kasal Laksamana TNI Arief Kushariadi dengan penuh rasa bangga meresmikannya dan kemudian dinyatakan terbuka untuk umum mulai tanggal 15 Juli 1998. Ini berarti 16 tahun kemudian baru aku dapat menyaksikannya.


        Di depan pintu masuk kapal selam Pasopati pertama-tama aku tunjukkan rasa hormat dan banggaku kepada seluruh pejuang Republik Indonesia dan secara khusus kepada para Komandan dan awak Kapal Selam Pasopati dengan sikap tegak memberikan hormat, mengangkat tangan kananku dan meletakkan dengan rapih tepat di atas alis kananku. Di Ruangan Pertama yang merupakan haluan terdapat empat peluncur torpedo dan penyimpanan torpedo cadangan serta ruang istirahat ABK. Ruang Kedua, adalah lounge room perwira, sekaligus ruang makan dan tempat bekerja perwira. Ruang Ketiga, adalah ruang PIT (Pusat Informasi Tempur) dimana terdapat radar pengintai sedangkan di bawahnya adalah gudang penyimpanan makanan. Ruang Keempat adalah lounge room bintara/tamtama dan dapur. Ruang Kelima adalah tempat motor diesel, pesawat bantu dan pengendaliannya. Ruang Keenam adalah tempat motor listrik penggerak kapal, motor-motor bantuan dan pengendaliannya. Ruang ketujuh merupakan ruang torpedo buritan. Di sini terdapat dua peluncur torpedo yang berfungsi menyerang dan menghindar. Ketujuh ruangan dalam Kapal Selam Pasopati ini dihubungkan dengan lorong lingkaran sehingga untuk melintasinya kita harus membungkuk atau bertiarap.


         
Kalau saja bukan karena desakan waktu untuk segera ke bandara Juanda, sebenarnya aku ingin berlama-lama di dalam Kapal Selam Pasopati ini untuk merasakan bagaimana suasana hati dan jiwa patriot perwira dan para awak yang berjumlah 63 orang di dalam ruang sempit di tengah-tengah lautan. Rupanya tak ada kata sempit bagi jiwa-jiwa yang lapang. Terimakasih dan doa untuk para perwira dan awak Kapal Selam Pasopati.

Surabaya, 22 Agustus 2014
Zulkomar, Investigator KNKT

MENGENAL PERBATASAN RI ( PAPUA ) - PNG

Selasa, 17 Desember 2013


Kenali perbatasan negaramu, maka kau akan mengenali bentuk,  situasi dan keadaan beranda terdepan negaramu. Siapapun yang melintasi perbatasan ia akan melihat sepintas beranda terdepan negara yang ia lintasi. Dengan sekali lihat, ia akan mempunyai gambaran awal bagaimana situasi di dalam negara tersebut. Atas dasar filosofi itulah kami berlima merasa perlu meninjau langsung daerah perbatasan RI – PNG yang biasa disebut daerah perbatasan Skouw – Wotung. Skou adalah daerah pernatasan RI, sedangkan Wotung adalah daerah perbatasan PNG.

Sebelum berangkat kami sudah melakukan kontak terlebih dahulu dengan petugas jaga di Skouw, dan melalui juru kunci menara suar perbatasan, Sahrul,  kami sudah mendapat jaminan bahwa situasi saat itu cukup aman dan cukup terkendali. Pada Minggu, 16 Desember 2012, Jam 10 pagi matahari cerah tetapi rinai gerimis ikut serta mengiringi perjalanan kami dari Kota Jayapura memasuki Abepura dan berbelok kiri mendaki jalan beraspal di perkampungan Nafri yang kiri kanannya masih banyak berupa hutan-hutan. Selanjutnya kami memasuki daerah transmigrasi Koya yang di kanan kirinya menghampar persawahan dan rumah-rumah penduduk yang jaraknya masih berjauhan, tetapi tampak sekali ada geliat ekonomi yang cukup ramai.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto daerah Koya dibuka dengan menempatkan transmigran yang berasal dari jawa. Tidak heran jika saat ini Koya dan juga Koya Timur termasuk daerah yang ramai dilintasi oleh para pengunjung yang akan pergi ke daerah perbatasan. Di Koya ini terdapat pasar buah dan juga jagung serta keripik yang dapat menjadi oleh-oleh bagi pengunjung yang akan pergi atau kembali dari perbatasan. Di koya pula terdapat beberapa areal pemancingan dan restoran yang cukup ramai dikunjungi oleh pendatang dari Jayapura dan Abepura serta pengunjung daerah perbatasan yang singgah makan menikmati berbagai jenis ikan dan ayam goreng yang nikmat. Penduduk Koya sebahagian besar adalah  beragama Islam tetapi di tempat ini tidak pernah terjadi kericuhan atau kerusuhan akibat perbedaan agama.

Dari Koya Timur kami masih membutuh 30 menit perjalanan untuk sampai ke perbatasan. Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 90 km dalam jangka waktu kurang lebih dua jam kami tiba di Skouw. Jika hanya untuk melewati perbatasan Skouw – Wotung, kami cukup melapor ke pos TNI dan meninggalkan KTP sebagai jaminan. Tetapi kalau bermaksud berlibur ke negara PNG bisa langsung lapor ke kantor imigrasi di Wutung dan jangan lupa menunjukkan paspor yang sudah ada visa Papua New Guinea nya. Visa PNG bisa didapat di kantor kedutaan PNG yang terdapat di daerah Entrop, Jayapura.


Daerah perbatasan biasanya identik dengan daerah yang tidak terjamah. Yang terkadang lupa akan kedaulatan Negaranya sendiri. Daerah dimana biasanya mata uang negara sebelah lebih memikat dibandingkan mata uang Negara sendiri. Namun tidak seperti itu yang terjadi di perbatasan antara Republik Indonesia dengan Papua New Guinea.

Di daerah perbatasan ini, ada yang namanya hari pasar. Hari dimana masyarakat kedua Negara saling bertemu dan berdagang. Hari pasar diadakan setiap hari Selasa, Kamis, dan hari Sabtu. Pasar yang bersebelahan dengan markas TNI-AD tersebut banyak dimanfaatkan penduduk Papua Nugini untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Warga PNG paling suka berbelanja di Skouw karena harga barang lebih murah. Pasar di Skouw ini dikelola secara bersama oleh loncing, Perhimpnan Pedagang Perbatasan. Transaksi bisa dengan kina (mata uang Papua Nugini) atau rupiah. Berbeda dengan di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini, yang hanya memberlakukan dolar dan kina. Sejak diresmikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Border Zone di Skouw-Wutung menjadi obyek wisata yang mulai banyak dikunjungi pendatang.

Dengan mengucapkan “Bismillahir Rahmanir Rahim” kami melintasi pintu gerbang intas perbatasan yang bertuliskan “welkam Long Papua Nugini” tanpa paspor dan visa tentu saja. Di Wotung PNG tidak ada pasar khusus sebagaimana di Skouw RI. Di Wotung kami hanya bisa berjalan di seputaran tanah seluas lapangan sepakbola. Di bahagian pinggir tersebar lapak-lapak yang menjual aneka souvenir PNG yang munkin saja produk Indonesia denganlabel PNG. Saya sendiri membeli topi Rp. 50.000, gantungan pemotong kuku Rp. 25.000, Gelas PNG Rp. 25.000, dan sebuah payung Rp. 50.000. Mereka juga menjual baju kaos PNG yang harganya lumayan mahal Rp. 150.000, Tas Noken Rp. 600.000, bahan kain Rp 170.000, sangkur Rp. 200.000,.
Sambil belanja kami sempatkan berphoto-photo di Pos Perbatasan, gerbang perbatasan, dan latar belakang mobil pick up PNG yang uniknya semua berwarnba putih-putih. Tidak lama kemudian penjaga pos perbatasan PNG memanggil saya dengan cara yang kurang ramah. Saya mendekati dan menyalaminya sambil mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah saya lakukan.


“Bapak sedang apa ?” tanyanya penuh selidik.
“Hanya sekedar photo-photo untuk kenang-kenangan,” jawabku.
“Pakai video ?” tanyanya lagi
“Ini hanya kamera kecil biasa tidak ada fasilitas videonya,” jawabku teringat pesan seorang teman, kalau mengambil photo jangan mengangkat kamera lama-lama. Setelah ambil photo turunkan dulu, setelah agak lama baru ambil photo lagi. Petugas di PNG khawatir kalau kami merekam lewat video.

“Kalau kamera biasa boleh. Di sini dilarang mengambil video dan membuat film tentang PNG. Kami tidak inginkan publikasi tentang negara kami,” katanya menjelaskan dan mempersilahkan aku kembali berphoto-photo. 

Sementara itu empat teman lainnya Suryanto Nano, Ardiansyah, Dulawi, dan Muslimin naik ke menara suar perbatasan menyaksikan pemandangan wilayah perbatasan RI dan PNG.



JEJAK SEJARAH LAWANG SEWU

Senin, 16 Desember 2013
Melihat bangunan gedungnya yang megah dan kokok berdiri di tengah-tengah Kota semarang, Jawa Tengah, tak ada yang akan dipercaya bahwa bangunan itu telah berusia 100 tahun lebih. Bangunan ini memang dijaga kewibawaannya dan tidak dibiarkan terkesan menjadi tua. Pemerintah Daerah Jawa Tengah menjaga,  memelihara dan merenovasi bangunan ini sebagai bukti sejarah bahwa di tengah Kota Semarang pernah ada penjajahan Belanda dan Jepang dengan segala tabiat kepenjajahannya.

 
Lawang Sewu dalam bahasa Jawa berarti seribu pintu. Pintunya sendiri sebenarnya tidak berjumlah seribu. Setiap kusen pintu rata-rata memiliki 6 sampai dengan 8 daun pintu. Jumlah daun pintunya mencapai angka 425 daun pintu, jika ditambahkan dengan daun jendela mungkin jumlahnya malah lebih dari seribu. Mengapa pula tidak ada yang sempat untuk menghitung jumlah pintunya agar dapat memberi penjelasan yang jelas dan tepat tentang jumlah pintu Lawang Sewu. Tak ada penjelasan soal ini. Tak ada juga catatan tertinggal yang menjelaskan kapan gedung ini bernama Lawang Sewu. Sejarah sepertinya membiarkan nama Lawang Sewu tetap misteri. ceritera dari mulut ke mulut mengatakan bahwa Lawang Sewu adalah sebutan dari masyarakat Semarang yang lidahnya tidak begitu akrab dengan sebutan nama gedung ke-Belanda-belandaan. Sebutan itu terus melekat dan menjadi ingatan bersama penduduk Kota Semarang.

 
Gedung Lawang Sewu dirancang oleh Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Deft) dan B.J. Ouendag, arsitek Belanda di Amsterdam pada tahun 1903. Peletakan pertama pembangunan gedung ini dimulai pada tanggal 27 Februari 1904 dan selesai pada tanggal 1 Juli 1907. Sesuai pesanan Kantor Pusat Perkeretaapian NIS, sang arsitektur memang merancang bangunan ini sebagai bangunan modern dengan banyak pintu untuk menyesuaikan dengan iklim tropis Semarang. Gedung ini seperti sebuah buku besar yang menyediakan dirinya ditulisi berbagai kisah. Menjaga bentuk dan isi buku ini sama artinya dengan menjaga khasanah sejarah perjalanan sebuah bangsa yang pernah terjajah untuk kemudian bangkit memerdekakan diri.

          Pada masa penjajahan Belanda gedung ini difungsikan sebagai kantor pusat Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yaitu sebuah perusahaan swasta perkeretaapian, dan merupakan perusahaan asing pertama yang membangun lintas kereta api di pulau Jawa, bahkan lintasan kereta api pertama di Indonesia. Jalur pertama yang dibuat melintas dari Semarang menuju Surakarta dan Yogyakarta dan sebagian menuju Ambarawa pada tahun 1867. Dengan semakin luasnya daerah jajahan dan menopang pertumbuhan perusahaan swasta, maka terpikirlah membangun gedung publik Lawang Sewu tersebut. Sebagai pusat perusahaan perkeretaapian hampir semua pembesar Belanda dan noni-noni Belanda sering berkumpul dan berpesta dansa di tempat ini. Ada ruangan berbentuk aula tempat dansi dansi pembesar-pembesar Belanda.


 
Ketika Jepang menduduki Indonesia (1940) yang datang sebagai saudara Asia, Jepang ternyata jauh lebih sadis dan kejam kepada penduduk pribumi dan musuh-musuhnya. Jepang menduduki Gedung Lawan Sewu yang diperuntukkan sebagai markas Kompetai, polisi militer Jepang yang terkenal sadis, kejam dan sangat menakutkan. Saat itu, Jepang mencatatkan sejarah lain tentang Lawang Sewu. Ruang bawah tanah yang tadinya berfungsi sebagai penyejuk dan bungker penghubung ke daerah lain, dialihkan oleh jelang sebagai penjara pembantaian. Bagaimana tidak, 16 buah kolam yang terdapat di ruang bawah tanah di fungsikan sebagai penjara jongkok. Satu kolam yang berukuran 1,5 x 1,5 meter dengan tinggi 60 cm diisi oleh Sembilan orang yang harus jongkok bersesakan, lalu diisi air seleher kemudian ditutup terali besi sampai mereka mati. Jepang juga mengfungsikan ruang berkotak sebagai penjara berdiri yang diisi sampai lima orang lalu ditutup pintu besi hingga mati. Mayat-mayat itu mereka keluarkan melalui ventilasi udara dan membuangnya ke sungai yang mengalir di samping gedung Lawang Sewu. 


 
Pada masa perjuangan kemerdekaan, Gedung Lawang sewu ini juga tercatat sebagai lokasi pertempuran hebat selama lima hari antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dan berbagai organisasi kepemudaan lainnya melawan Kompetei dan Kidobutai untuk melucuti tentara Jepang yang telah menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Setelah kemerdekaan Gedung Sewu berturut-turut dipakai sebagai Kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia, lalu Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan. Setelah mengalami pemugaran dengan mendatangkan ahli dari Belanda, Lawang Sewu mulai dipercantik untuk mendekati bentuk aslinya. Kesan seram dan mistik karena terbengkalai, kini menjadi tempat yang sangat memikat pengunjung. Kini Lawang Sewu telah menjadi gerai pamer industry dan kreatif yang mewakili daerah seluruh Indonesia dengan lebih menonjolkan diri sebagai museum sejarah perkeretaapian Indonesia.

          Untuk mengenang jejak sejarah Lawang Sewu, saya berkesempatan mengunjungi Lawang Sewu yang artistik didampingi oleh seorang teman, Dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata (Stiepari) Semarang. Hal pertama yang muncul ketika memandangi Lawang sewu dari dekat adalah rasa kagum yang luar biasa melihat seni arsitektur bangunan peninggalan Belanda ini. Kami langsung naik ke lantai dua melihat deretan pintu-pintu dan ruangan-ruangan yang kesemua terhubung (connecting door), hingga pada suatu ruang yang luas dan memanjang. Aku membayangkan suasana pesta dansa yang berlangsung meriah di tempat ini. Berbeda dengan temanku yang merasakan suasana dingin, lembab, sepi dan senyap. Kami terus berjalan ke belakang, ada tangga menuju loteng gedung. Teman menawarkan untuk naik ke atas dan melihat keadaan lotengnya, tetapi saya menolak karena saya pikir tidak ada yang menarik di atas loteng sana kecuali kegelapan hampa barang.

          Kami lalu turun ke lantai satu. Di bagian belakang terdapat ruang untuk menuju ke ruangan bawah tanah. Di sana tersedia penyewaan sepatu boot dan senter kecil karena di bawah memang sangat gelap. Pada salah satu dindingnya terpampang pengumuman, “Dilarang melakukan kegiatan berbau mistis di areal Lawang sewu.”.

          “Di bawah sinilah ruang pembataian manusia,” kata temanku mengingatkan ketika kami melangkah turun ke bawah dengan tangga agak sempit sehingga kita harus turun satu persatu. Ruang bawah tanah ini di genangi air yang bening setinggi 2 s.d. 3 cm. Air ini selalu bersih karena ia mengalir ke luar. Dengan senter masing-masing di tangan kami berjalan menyusuri lorong-lorong panjang yang di kirinya terdapat kolam berisi air dan ruang-ruang kotak sebagai tempat penyiksaan manusia. Saya tidak merasakan adanya aroma kematian di tempat ini, atau bau-bau darah dan mayat manusia.


          Setelah mengitari semua tempat di bawah tanah. Kami duduk sejenak di pipa besar pembuangan air. Teman dosen ini menawarkan untuk uji nyali. Saya jadi teringat program reality show televisi yang memang ternyata mengambil tempat shooting di tempat ini. “Bagaimana caranya,” tanyaku. “Kita duduk di sini dan mematikan senter untuk beberapa lama. Jangan berbicara dan coba rasakan suasananya,” katanya. Kami duduk berdiam sekitar 3 menit. Sejujurnya, saya tidak merasakan apa-apa selain kegelapan dan kelembaban. Saya tidak menemukan hal-hal yang mistik, atau sesuatu yang menyeramkan di tempat ini. Saya lalu bertanya mengapa orang-orang mengatakan tempat ini sebagai keramat. Setelah lampu senter dinyalakan kembali, teman saya bertanya, “Bapak merasakan atau mendengar suara-suara ? seperti keluhan dan tangisan kecil ?.”


“Saya tidak merasakan dan mendengar apa-apa selain dengung udara dalam ruangan pengap ini.”

“Itulah suara mayat-mayat yang dibantai di tempat ini,” jelasnya meyakinkan aku yang tidak pernah bisa yakin dengan apa yang ia yakini.

Hari sudah malam. Kami kembali dengan kesan dan ceritera hati yang berbeda-beda tentang Lawang Sewu.