Sebulan
sebelum pernikahan putra pertamaku, aku mendengar istri, anak dan calon
menantuku tengah berdiskusi hangat tentang souvenir pernikahan. Mereka saling
mengemukakan pendapat dan usulan tentang benda apa yang baik, berguna dan
berkesan yang akan diberikan kepada tamu-tamu yang akan datang pada resepsi
pernikahan yang jatuh pada tanggal 4 September 2016, nanti. Titik tekan
pertimbangan mereka masing-masing bahwa benda tersebut cukup baik dan berguna,
serta harganya murah tetapi tidak terkesan murahan.
Dalam
bahasa Inggris souvenir berarti bingkisan, kenang-kenangan, tanda mata, cendera mata atau semacam
oleh-oleh. Jadi souvenir dapat dikatakan sebagai benda atau barang yang diterima atau
diberikan oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan sebagai simbol untuk
mengingat sebuah kejadian yang begitu penting pada waktu tertentu. Harapannya saat melihat benda
tersebut orang yang diberi souvenir akan teringat kembali pada sebuah moment
tertentu. “Ooh…benda ini saya terima
saat pernikahan Muhammad Alfisyahrin dengan Rina Cahyani, pada tanggal 4
september 2016,” begitu aku menjelaskan.
Dengan
demikian sipemberi souvenir tentu berharap souvenir yang ia berikan cukup
menarik, dibutuhkan dan akan tersimpan lama oleh sipenerima. Tradisi pemberian
souvenir pernikahan sudah berlangsung sangat lama, bukan hanya di Indonesia
tetapi hampir di seluruh dunia. Tradisi ini bermula sebagai ungkapan
terimakasih bangsawan bangsawan kaya Eropa kepada para tamu yang telah datang
ke acara pernikahan keluarganya. Seiring dengan perkembangan zaman, benda-benda
yang dijadikan souvenir pernikahan juga berkembang dan lebih variatif mengikuti
selera pengantin. Seolah-olah ingin menunjukkan kepada para tamu inilah kelas
selera dan cita rasa pengantin.
Souvenir
pernikahan sesungguhnya memang hanya benda kecil yang harganya tak seberapa.
Tetapi resepsi pernikahan tanpa adanya souvenir seperti sebuah perhelatan
panggung tanpa tata cahaya, serasa ada yang kurang dan tidak sempurna. Coba
perhatikan di meja penerimaan tamu, begitu antusias dan senangnya para undangan
menerima souvenir. Mereka mengamatinya sejenak dan menyimpannya di saku. Mereka
amat suka benda-benda kecil itu, dan dengan perasaan gembira membawa pulang ke
rumah dan memberikan kepada anak-anak mereka. Kadang-kadang souvenir itu juga
diperlakukan sebagai alat bukti bahwa seseorang telah hadir di suatu pesta
pernikahan, dan bukan ke tempat lain.
Nach,
sekarang coba ingat-ingat kembali. Berapa kali anda telah menghadiri pesta
pernikahan ? Berapa banyak souvenir dengan berbagai bentuk dan modelnya yang
telah anda terima ? Kemana dan menjadi apa souvenir-souvenir itu kemudian ?
Jujur saja souvenir berupa benda-benda kecil itu hanya terkesan sesaat dan
tergeletak begitu saja di rumah untuk kemudian menghilang. Atau hanya sekedar
kegembiraan telah memberikan oleh oleh pernikahan kepada anak-anak. Tidak ada
satupun souvenir pernikahan yang tersimpan awet. Kalaupun ada yang tersimpan,
percayalah itu tidak lama.
Berdasarkan
pertimbangan dan pengalaman tersebut, maka dalam pernikahan anak pertama ini
saya memberikan souvenir sebuah buku ceritera legenda berjudul, “Bolong
Manyalla”, karya saya sendiri. Naskah ini adalah juara II Sayembara Penulisan
Naskah Ceritera Video/Film, Kategori Legenda tahun 1991. Namun baru pada tahun
2015 akhir Indie Publishing menerbitkannya sebanyak 1000 (seribu) exp. Buku
“Bolong Manyalla” ini sedianya akan dimasukkan ke Gramedia untuk dipasarkan.
Tetapi karena ketentuan di Gramedia hanya bisa memasarkan buku dalam jumlah minimal
2000 exp. Maka peredaran buku tersebut tertahan dan hanya dipasarkan secara on
line.
Jakarta, 22 Sept 2016
0 komentar:
Posting Komentar