KAPAL SELAM DI TENGAH KOTA SURABAYA

Minggu, 24 Agustus 2014



Seusai memberikan materi pelatihan pada acara, “In House Training Aircraft Accident Investigation And Report Writing” yang diadakan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bekerjasama dengan Universitas Nurtanio Bandung, di salah satu hotel di Surabaya, 19 – 22 Agustus 2014, pihak event organizer berkenan mengantar kami ke bandara Juanda untuk segera kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan kami melintasi jalan pemuda yang bersih dan tidak begitu padat, di kiri jalan mataku tiba-tiba melihat sebuah kapal besar di tengah kota.


        “Itu adalah Monument Kapal selam Pasopati,” kata Sang Sopir ketika aku menanyakannya.

        Mendengar nama Pasopati minatku tiba-tiba menyerang keinginanku untuk melihatnya. “Kalau kita mampir 30 menit apakah kita tidak ketinggalan pesawat ?” tanyaku pada supir yang membawa kami.

        “Kita masih punya cukup waktu kalau bapak-bapak ingin mampir,” jawabnya.

        Akhirnya mobil kembali memutar dan memasuki area monument. Setelah membayar uang parkir Rp. 5.000,- dan membayar ongkos masuk Rp. 8.000,- perorang, aku bersama dua teman lainnya, Edy Sasongko Kepala Sub Komisi Kereta Api, KNKT dan Carmelia Sukmawati mantan wartawan di Istana negara pada masa pemerintahan Soeharto menaiki tangga dan masuk ke dalam Kapal Selam Pasopati.

        Ingatanku meluncur ke masa silam, masa ketika bangsa Indonesia harus terus berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaan. Segenap kekuatan bersenjata dikerahkan untuk mempertahankan agar tak sejengkal tanahpun dari negeri ini diganggu oleh pihak-pihak lain. Salah satu kapal selam yang mengambil peran penting itu adalah KRI Pasopati. KRI Pasopati dengan nomor lambung 410, termasuk jenis SS Type Whiskey Class yang dibuat di Vladi Wostok, Rusia pada tahun 1952. Masuk ke jajaran TNI-AL pada tanggal 29 Januari 1962 dengan tugas pokok menghancurkan garis lintas musuh, mengadakan pengintaian dan melalukan silent raids.

        Selama pengabdiannya, KRI Pasopati banyak berperan aktif menegakkan kedaulatan Negara dan hukum di laut yurusdiksi nasional dalam berbagai operasinya, antara lain Operasi Trikora pada tahun 1962 KRI Pasopati berada di garis depan memberikan tekanan psikologis terhadap lawan. Selain itu sejarah juga mencatat betapa KRI Pasopati telah memberikan banyak peranan penting dalam berbagai operasi yang dilaksanakannya. Seingatku KRI Pasopati dinonaktifkan dari jajaran TNI-AL pada tanggal 25 Januari 1990 yang ditandai dengan penurunan ular-ular perang dalam suatu upacara militer yang begitu khikmat dan penuh haru di ujung Surabaya.

        Bagaimana kapal selam yang heroik dan historis ini dengan panjang 76,6 meter, lebar 6,30 meter dengan berat kosong 1.050 ton ini bisa berada di tengah kota Surabaya dan menjadi monument kebanggaan bangsa. Menurut keterangan pemandu wisatanya KRI Pasopati dipotong-potong menjadi 16 blok di PT PAL Indonesia lalu dibawa ke lokasi untuk dirakit ulang hingga menjadi Kapal Selam Pasopati yang kembali utuh dan berdiri kokoh di tempatnya sekarang.

        Adalah mantan Gubernur Jawa Timur, Basofi Sudirman yang meletakkan batu pertama pembangunan monument kapal selam Pasopati ini pada tanggal 1 Juli 1995. Butuh waktu tiga tahun untuk membangun dan merakit kembali kapal selam ini, dan pada tanggal 27 Juni 1998 Bapak Kasal Laksamana TNI Arief Kushariadi dengan penuh rasa bangga meresmikannya dan kemudian dinyatakan terbuka untuk umum mulai tanggal 15 Juli 1998. Ini berarti 16 tahun kemudian baru aku dapat menyaksikannya.


        Di depan pintu masuk kapal selam Pasopati pertama-tama aku tunjukkan rasa hormat dan banggaku kepada seluruh pejuang Republik Indonesia dan secara khusus kepada para Komandan dan awak Kapal Selam Pasopati dengan sikap tegak memberikan hormat, mengangkat tangan kananku dan meletakkan dengan rapih tepat di atas alis kananku. Di Ruangan Pertama yang merupakan haluan terdapat empat peluncur torpedo dan penyimpanan torpedo cadangan serta ruang istirahat ABK. Ruang Kedua, adalah lounge room perwira, sekaligus ruang makan dan tempat bekerja perwira. Ruang Ketiga, adalah ruang PIT (Pusat Informasi Tempur) dimana terdapat radar pengintai sedangkan di bawahnya adalah gudang penyimpanan makanan. Ruang Keempat adalah lounge room bintara/tamtama dan dapur. Ruang Kelima adalah tempat motor diesel, pesawat bantu dan pengendaliannya. Ruang Keenam adalah tempat motor listrik penggerak kapal, motor-motor bantuan dan pengendaliannya. Ruang ketujuh merupakan ruang torpedo buritan. Di sini terdapat dua peluncur torpedo yang berfungsi menyerang dan menghindar. Ketujuh ruangan dalam Kapal Selam Pasopati ini dihubungkan dengan lorong lingkaran sehingga untuk melintasinya kita harus membungkuk atau bertiarap.


         
Kalau saja bukan karena desakan waktu untuk segera ke bandara Juanda, sebenarnya aku ingin berlama-lama di dalam Kapal Selam Pasopati ini untuk merasakan bagaimana suasana hati dan jiwa patriot perwira dan para awak yang berjumlah 63 orang di dalam ruang sempit di tengah-tengah lautan. Rupanya tak ada kata sempit bagi jiwa-jiwa yang lapang. Terimakasih dan doa untuk para perwira dan awak Kapal Selam Pasopati.

Surabaya, 22 Agustus 2014
Zulkomar, Investigator KNKT

ROAD SHOW NISFU SYA'BAN

Rabu, 02 Juli 2014


Secara harfiah Nisfu Sya’ban berarti pertengahan bulan Sya’ban. Sya’ban adalah salah satu bulan dalam kalender hijriah, yaitu bulan sebelum bulan Ramadhan. Banyak ayat dan hadist yang menjelaskan tentang beberapa keutamaan bulan Sya’ban, khususnya pertengahan (nisfu) bulan sya’ban. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Gazali mengistilahkan malam nisfu sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan).

            Ritual Malam Nisfu Sya’ban tidak hanya dilakukan di Indonesia tetapi juga di beberapa belahan dunia lainnya, bahkan Al Azhar sebagai yayasan pendidikan terbesar, tertua dan ternama di Mesir melaksanakan ritual malam nisfu sya’ban. Pada malam nisfu sya’ban diyakini bahwa Allah akan memberikan keputusanNya tentang nasib anak manusia selama setahun ke depan hingga perjumpaannya kembali dengan bulan sya;ban berikutnya.

            Sesungguhnya ritual malam nisfu sya’ban secara sederhana tak lain dari persiapan diri umat muslim memasuki bulan suci Ramadhan. Persiapan tersebut meliputi persiapan mental dan persiapan fisik, sehingga umat Islam ketika memasuki bulan suci Ramadhan sudah dalam keadaan iman yang mantap dan telah mendapatkan syafaat dari Allah Azza Wajalla.

            Sangat banyak hadist baik yang diriwayatkan oleh HR Turmudzi, HR Baihaqi, dan lain-lain. Salah satu hadist HR Ibnu Majah tertulis, “Diriwayatkan dari Ali Bin Abu Thalib bahwa Rasulullah SAW bersabda, Jika malam Nisfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepadaKu, lalu aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki, adakah yang tertimpa bala, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbit fajar”

Ritual Malam Nisfu Sya’ban
Hadist HR Ibnu Majah yang di atas tersebutlah yang menjadi inspirasi keluarga besarku sehingga setiap tahun di pertengahan bulan sya’ban kami berkumpul bersama, baik keluarga yang berada di Kota Administratif Palopo, di Kota Makassar, Kota Kendari, maupun kami yang berada di kota besar Jakarta. Biasanya kami berkumpul di rumah keluarga yang paling dituakan atau di rumah salah satu keluarga yang memang telah ditentukan tempat pelaksanaan malam nisfu sya;ban.

Kami biasa mengawalinya dengan sholat magrib berjamaah. Setelah itu kami melakukan sholat sunnah nisfu sya;ban dua rakaat. Lalu kami bersama-sama membaca surah Yasin untuk yang pertama dengan doa dipanjangkan umur dan dimaafkan segala dosa yang telah diperbuat sehingga umur yang kita lalui penuh berkah dan bermanfaat bagi diri, keluarga, lingkungan dan umat. Pembacaan Surah Yasin yang kedua kalinya dengan doa diberikan rezeki yang halal dan barokah. Lalu pembacaan Surah Yasin yang ketiga dengan doa dikuatkan iman sehingga senantiasa segala tindakan dan perilaku kita di muka bumi senantiasa tetap berpegang teguh pada Al Qur’an dan Al Hadistm dan juga dimintakan doa agar terhindar dari mala petakan diluar kemampuan kita sebagai hamba Allah. Pada setiap akhir pembacaan surah Yasin, salah seorang membacakan doa Nisfu Sya;ban yang diamini oleh para jamaah.


Kebiasaan seperti ini terus menerus keluarga besar kami lakukan setiap kali malam nisfu sya’ban tiba. Pada tahun ini, kebetulan ketika aku berada di Makassar untuk sebuah tugas dari kantor, aku sempatkan hadir bersama keluarga untuk melaksanakan ritual malam nisfu sya’ban. Pada tahun 2014 ini ada sesuatu yang luar biasa dilakukan oleh keluarga besarku di Makassar. Kami tidak hanya melaksanakan malam nisfu sya’ban sekali di satu tempat, tetapi melaksanakannya selama 6 hari berturut-turut dan bergiliran dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Aku sendiri memberi nama kebiasaan yang luar biasa ini sebagai, Road Show Nisfu Sya’ban. 

Malam pertama dilaksanakan di rumah Almarhumah kakakku Murni Zakaria, malam kedua di rumah kakak yang paling kami tuakan Makmur Zakaria Opu Dg, Materru, malam ketiga di rumah Hj. Sarinah, malam keempat di rumah Hj. Hamzainah, malam kelima di rumah Abd. Harris/Hj. Susi, dan malam keenam sebagai malam pamungkas road show Nisfu Sya’ban dilaksanakan di rumah pamanda H. Muhammad Saleh Yusmad. Aku sendiri Alhamdulillah bisa menghadiri road show nisfu sya’ban di hari ketiga hingga terakhir. Jadi praktis selama enam malam berturut-turut kami berkumpul bersama melakukan ibadah pembacaan surah Yasin di malam nisfu sya’ban. Sungguh suatu silaturahim keluarga besar yang tidak terputus menjelang masuknya bulan ramadhan.


Aku sangat terkesan dan bangga dengan keluarga besarku. Keluarga besar ini selalu menjagaku dari kemungkinan-kemungkinan perbuatan yang tidak sesuai dengan kaidah agama dan budaya yang kami anut dan pelihara secara turun temurun. Saat itupun aku berjanji akan melakukan hal yang sama dengan keluarga besar Dg, Pabarrang di Jakarta. Mungkin saja namanya bukan lagi Road Show Nisfu Sya’ban, karena nama itu biarkan menjadi paten kegiatan keluarga besarku di Makassar. Aku sendiri berencanakan menamakannya Safari Nisfu Sya’ban.

Alhamdulillah pada tahun ini, 2018 Keluarga besar Dg. Pabarrang di Jakarta kembali  laksanakan Safari Nisfu Sya' ban dan pada hari pertama dilaksanakan di rumah kami. Selanjutnya akan bergilir ke mlam-malam berikutnya di rumah keluarga yang lain.

Pada kesempatan ini pula, menyambut bulan suci Ramadhan, saya pribadi dan keluarga besar kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada sanak famili, kerabat dan para kenalan jika kami mempunyai kesalahan dan kealpaan. Semoga ibadah kita semakin meningkat dibulan ramadhan dan di hari hari berikutnya. Amin.

 
Tulisan ini terinspirasi dari catatan adinda 
Hj. Hamzainah Hamid Faisal tentang Nisfu Sya’ban.

Jakarta, 2 Juli 2014
Bertepatan Peringatan hari Lahirnya Kota Palopo

E S O K

Selasa, 10 Juni 2014


Esok atau besok adalah hari setelah hari ini. Mengapa ada kosa kata ”esok” ? Itu karena hidup tidak hanya hari ini, walaupun hidup yang kita pastikan adalah hidup yang hari ini. Banyak diantara kita yang berpikir bahwa hidup hanyalah hari ini dan untuk hari ini. Esok adalah sesuatu yang tak pernah ada, karena kalaupun esok tiba, maka esok akan menjelma menjadi hari ini.

Semua adalah hari ini, sehingga jika kau bermaksud menantikan esok, maka lakukanlah pada hari ini. Karena esok yang kau namakan esok ketika tiba, ia tak lain adalah hari ini. Jadi, hari ini tak lain adalah esok yang kau katakan kemarin. Sedangkan esok yang kau katakan hari ini adaah sesuatu yang sesungguhnya tak pernah ada secara nyata.

Esok adalah penantian panjang yang tak pernah kau temui. Setiap manusia punya daya gerak beranjak dari satu titik menuju titik berikut. Satu titik itu adalah hari ini, sedangkan titik berikutnya adalah hari setelah hari ini. Itu yang disepakati oleh semua pemakai bahasa sebagai esok or tomorrow. Padahal esok yang anda temui itu tak lain adalah hari ini. Bahasa yang paling sederhana adalah bahwa kita tidak pernah berpijak di esok. Kita hanya berpijak pada titik hari ini ke hari ini berikutnya.

Pernah kau berjanji pada seseorang tentang esok ?
Pernahkah kau berjanji pada dirimu tentang esok ?
Pernahkah kau melakukan sesuatu untuk esok ?
Pernahkah kau menunda sesuatu untuk esok ?
Pernahkah kau merencanakan sesuatu untuk esok ?
Pernahkah kau berharap sesuatu untuk esok ?
Semua tentu saja pernah
karena semua ingin hidup dan lebih baik untuk esok,
Pada esoklah seseorang menanam dan menumbuhkan harapannya.

tapi pernahkah kau berpikir bahwa esok tak pernah datang lagi ?
Apa yang akan kau lakukan sekiranya esok sungguh tak ada lagi ?
Berpikir tentang esok adalah berpikir tentang harapan-harapan
tetapi berpikir tentang esok bisa juga tentang kecemasan
semua sangat tergantung bagaimana anda hari ini.
Betapa banyak diantara kita
diteror oleh ketidakpastian esok
ditodong oleh ketidakjelasan esok
dihadang oleh ribuan tanda tanya tentang esok

Esok itu untuk siapa ?
Kau katakan, bahkan dengan bersumpah
untuk kau dan aku.

Esok itu akan terjadi,
tetapi adakah kau di esok ?
sementara esok tak dijanjikan untuk siapa siapa.
Tidak juga untuk kau dan aku.
Hanya kau saja yang berjanji untuk esok
sementara esok tak menjanjikan apa-apa untukmu.

Jika hari ini matahari pagi datang menjemputmu dengan senyum, apa yang akan kau katakan dan apa yang akan kau lakukan ? Matahari tak punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu. Kau mungkin masih diberi sedikit waktu untuk melihat indahnya jingga di senja ketika matahari menjelang tergelincir, tetapi siapa yang dapat menjanjikanmu bahwa matahari akan kembali menemuimu. Bagaimana jika matahari tak hadir lagi untukmu ? Bagaimana jika esok tak datang lagi untukmu dan satu-satunya yang kau punya hanyalah hari ini ?

Jika demikian, lakukanlah sekarang apa yang semestinya kau lakukan. Dont put until tomorrow what you can do today. Jika hari ini adalah sholat terakhirmu, sholatlah lebih khusu dari yang khusu. Jika hari ini adalah sedekah terakhirmu, maka bersedekahlah dengan bilangan yang cukup. Jika hari ini adalah hari terakhirmu, maka sayangilah orang yang kau sayangi lebih sayang dari segala kasih sayang. Jika hari ini adalah pertemuan terakhirmu dengan sesama manusia, maka berikanlah senyuman terindahmu. Jika hari ini adalah hari terakhirmu, luangkanlah waktu untuk mengatakan ”Aku menyesal”, ”Maafkan aku”, ” Terimakasih”, ”Aku ikhlas untuk semuanya”, ”Aku sungguh tulus”, ”engkaulah yang terbaik”, atau jabat tangannya dengan kehangatan penuh kasih.

Bila esok sungguh tak pernah datang lagi
Kau tak akan menyesali semua hal hari ini.
Pilihlah nomor satu
karena nomor berikutnya mungkin tak akan datang.



Jakarta, 10 Juni 2014

PANTUN MENGANTAR MEMPELAI PRIA

Selasa, 08 April 2014


Bismillahir Rahmanir Rahim

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

1.     Syukur kita panjatkan ke khadirat Allah SWT yang telah memberikan segala nikmatNya, nikmat Iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, dan nikmat keluangan waktu sehingga kita bisa berkumpul di tempat yang Mubarak ini untuk saling menjalin tali Silaturahim.

2.      Sholawat kita panjatkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW beserta para sahabat dan pengikutnya hingga para ulama terkini,  yang dengan ajaran dan bimbingannya kita dapat menjalankan Syariat Islam secara baik dan benar.

3.     Terimakasih kepada, sahibul hajat, Bapak Muhammad Rusli Muslimin beserta keluarga besarnya,  pemuka masyarakat, tokoh agama  dan para hadirin.

Daun salam di meja makan
Untuk bumbu masakan kini
Salam dan hormat saya haturkan
Untuk semua yang ada di sini

Buah semangka, buah rambutan
Dinikmati di terang bulan
Terimakasih hangatnya sambutan
Hati kami lega dan riang

4.     Di hadapan saya sudah ada penjemput
Di belakang ada senyum tamu pengiring
Perkenankan kami mempekenal diri …..
Kami rombongan keluarga besar M. Sada Mangumbari

Awan mega berselimut kabut
Burung gereja terbang beriring
Sungguh lega melihat senyum penjemput
Mohon doanya untuk tamu pengirng

5.     Kami tak ingin berlama-lama, membuat semua pihak bertanya-tanya
tentang maksud dan tujuan kami datang ke majelis ini

Pedang  Sawerigading tiada tanding
Pedang terasah tajam teruji
Bukan datang sembarang datang
Datang untuk memenuhi janji

Berarak mega dilangit biru berawan
Jika mendung bertanda hujan akan turun
Wahai handai tolan yang budiman
Kami datang berkunjung untuk berbesanan


Buah duku buah kecubung
Buah manggis manis rasanya
Maksud kami datang berkunjung
Mengantarkan pengantin prianya

Dengan mengucapkan bismillahir rahmanir rahim
Kami serahkan  anakda Sang pangeran  Syahrul Awal
Untuk dinikahkan dengan bidadari jelita Hilda Rusli,
Kami dengan senang hati
akan mengikuti semua prosesi
dengan segala adat istiadatnya

6.     Tak ada botol gelaspun jadi
Sekapur sirih pantun silahturahmi
Lega rasanya menyampaikan maksud hati
Sudah saatnya keluarga membaurkan diri

7.     Sungai Latuppa airnya bersih
Tempat mandi dan makan-makan
Cukup sekian dan terimakasih
Jika ada salah sudilah dimaafkan

Wabillahit Taufik wal hidayah
Wassalamu alikum Wr Wb.

Palopo, 2/4/2014 (Saat mengantar anakda Syahrul Awal)