Siapa gerangan dikau
menyembunyikan tangisan
di balik kata germis dan embun.
Siapa gerakangan dikau
mengungkap kerapuhan
lewat daun dan ranting kering
Siapa gerangan dikau
membungkus kesedihan dan kesusahan
dengan selimut kabut dan pekat
Siapa gerangan dikau
mengeluhkan beban
dengan badai dan gelombang
Siapa gerangan dikau
merasa telanjang
tanpa bahasa alam.
Jakarta, 25/1/2014
Banyak rahasia yang tersembunyi di Langit. Untuk mengenalnya, dekatkan diri pada Illahi agar tirai ilmu terurai.
SEPENGGAL CERITERA KETIKA TSUNAMI MENGHANTAM ACEH (2)
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
17.59
Kamis, 23 Januari 2014
Sepulang dari Aceh aku berniat membayar lunas
semua kelelahan badan dan pikiran yang
terkuras habis di tengah bencana tsunami di Aceh dengan menikmati tidur
sepuas-puasnya. Tetapi niat itu tak pernah mampu kubayar lunas. Ada saja
hal-hal lain yang mengganggu istirahatku. Keluarga yang datang silih berganti
mengucapkan syukur karena aku masih selamat betul-betul menyita waktuku. Setiap
kali mereka datang, mereka meminta aku berceritera tentang pengalaman tragis
yang aku alami. Mereka begitu antusias mendengar segala perih, penderitaan dan pengalamanku,
tetapi mereka tidak tahu betapa aku tersiksa harus menceriterakan itu
berulang-ulang kepada mereka. Aku tidak mempersalahkan keingintahuan mereka,
tetapi mereka juga harus memahami kondisi kejiwaanku. Bayangkan dalam satu hari
kadang aku harus menceriterakan hal yang sama berulang-ulang. Kadang timbul di
pikiranku untuk merekam ceritera itu dan membagi-bagikan kepada mereka yang
datang untuk menengok dan mendengar ceriteraku.
Tidur pada malam haripun aku selalu terganggu dan
terbangun. Setiap kali istriku bergerak aku langsung kaget dan terbangun
seolah-olah sedang terjadi gempa. Mendengar suara tikus di atas flafonpun aku
bisa langsung terperanjat dan bangun. Sungguh sulit untuk mendapatkan tidur
yang betul-betul nyenyak. Aku mengalami semacam traumatis tetapi tidak sampai
mengganggu keseimbangan jiwaku. Aku bahkan pernah sekali dua kali terkaget dari
bangun dan langsung berteriak ketika bencana tsunami itu hadir kembali sebagai
ranjau-ranjau tidur.
Selama tiga hari sejak ke pulangan dari Aceh aku
tidak pernah merasakan makan yang enak dan nyaman. Aku tidak lagi bisa makan
dengan mempergunakan tangan, padahal makan dengan tangan itu bagiku merupakan
cara bersantap yang paling nikmat tanpa alat bantu sendok maupun garpu.
Bagaimana aku bisa makan dengan mempergunakan tangan jika aku masih merasa
bahwa tanganku masih berbau mayat. Walaupun aku mencoba mencuci tangan dengan
sabun sebelum makan, tetap saja aku masih merasa adanya bau mayat melekat pada
kedua telapak tanganku.
Aku tahu istri dan anak-anak merasakan ada hal
yang kurang pada diriku pasca bencana tsunami itu. Biasanya anak-anak enggan
untuk menyapa dan menggangguku ketika berada di depan laptop atau sedang
membaca buku, majalah maupun koran. Sekarang ini anak-anak sering merapat dan
menceriterakan banyak hal kejadian-kejadian yang mereka alami di sekolah untuk
memancingku tersenyum atau tertawa. Kadang-kadang di saat menonton televisi
yang masih saja berisi berita-berita tentang tsunami, mereka tiba-tiba mengajak
bermain kartu remi dan mematikan televisi. Aku tahu semua itu mereka lakukan untuk
aku.
Sebenarnya kantor tempat aku bekerja memberikan
dispensasi kepadaku untuk beristirahat selama seminggu untuk memulihkan
traumatis. Kadang-kadang istri dan anak-anak mengajakku menonton di bioskop 21,
tetapi dasar aku memang tidak begitu hobby menonton di bioskop, hanya
sekali-sekali saja permintaan mereka aku turuti. Selebihnya aku menikmati
bacaan-bacaan yang sengaja dibelikan oleh anak lelakiku di toko loakan sebagai
teman mengisi liburan. Pada masa liburan itu pulalah aku sempat mengurus
kembali Kartu Tanda Penduduk (KTP), SIM, kartu Askes, dan tetek bengek urusan
perbankan dan kartu-kartu kepegawaian.
Setelah istirahat seminggu, senin kedua Januari
2005 aku mulai masuk kerja. Aku sudah berketetapan hati untuk tidak lagi
menceriterakan pengalaman-pengalamanku di Aceh. Aku sungguh lelah
menceriterakan hal yang sama berulang-ulang. Di kantor aku lebih senang
mengurung diri, tetapi teman-teman tetap saja datang berkunjung ke ruanganku.
Rupanya kegelisahanku terbaca oleh pimpinan. Sesmenko kemudian mengadakan acara
syukuran atas keselamatan tim yang bertugas di Aceh pada waktu tsunami. Dalam
kesempatan syukuran tersebutlah, Bapak Wagimin sebagai ketua tim dan yang lebih
dituakan menceriterakan segala apa yang kami alami di aceh pada saat tsunami
dan pasca tsunami di hadapan teman-teman karyawan Kemenko Polhukam.
Alhamdulillah dengan demikian aku tidak lagi direpotklan untuk menceriterakan
hal yang sama karena semua karyawan telah mendengar ceritera lengkapnya.
Dua tahun Kemudian
Dua tahun telah berjalan.
Tampak semua telah berjalan normal kembali. Saat itu akan sedang menjalani masa
pendidikat Diklat PIM III. Menjelang akhir pendidikan aku mendapat kabar bahwa
aku akan ditugaskan menangani proyek Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh
untuk tahun 2007 dan seterusnya mengganti pemegang proyek sebelumnya. Aku
sungguh paling tidak senang pekerjaan yang berurusan dengan uang. dari
pengalaman berorganisasi hanya satu pekerjaan yang tidak pernah aku tangani
adalah menjadi bendahara atau tugas-tugas lain berhubungan dengan mengelola
anggaran. Namun karena ini sudah menjadi keputusan pimpinan tanpa meminta
persetujuanku, terpaksa aku jalani. Aku minta waktu untuk menyelesaikan
pendidikan diklat PIM III-ku.
Aku ditugaskan sebagai
verifikator, sedangkan Ketua Satkernya adalah Bapak Wagimin dan Bendaharanya
adalah sdr. Zulhan sementara Kepala proyeknya tetap dipegang oleh Bapak Harry
Kadir. Kebetulan teman diklatku ada yang berasal dari Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). Kepadanya aku bertanya banyak hal tentang tugas verifikator dan
konsekuensi-konsekuensi apa saja yang bisa menjerat dan menjerumuskannya. Tugas
tim di Aceh adalah untuk membantu rehabilitasi aceh dengan memajukan
kelompok-kelompok masyarakat melalui bantuan sosial sekaligus berperan
membangun dan menjaga perdamaian Aceh.
Dompetku Kembali Lagi
Setelah dua bulan di Aceh, ada seorang gadis,
namanya Nur Hasanah mencari-cari diriku. Ia bertanya ke sana kemari, dan
akhirnya bertanya di mess Polhukam yang dulu dimana saya tidak bertempat
tinggal di sana lagi. Dari sana ada seorang bekas supir, namanya Bambang
mengantarkan gadis itu menemuiku di kantor Satker Polhukam di Kuta Alam.
Gadis itu menyalami dan
mencium tanganku. ”Nama saya Nur Hasanah. Saya yang terdampar di mess Bapak
waktu tsunami. Maaf pak, saya yang telah mengambil dompet bapak. Saya tak punya
siapa-siapa lagi. Waktu itu saya sungguh khilaf. Saya hanya berpikir bagaimana
caranya melanjutkan hidup dan mengobati luka-luka di kaki saya.”
”Bagaimana kau bisa
mengenali nama saya ? dan mengapa baru sekarang, setelah dua tahun berlalu kau
mencari saya.” tanyaku ingin menggali ceriteranya.
”Saya tahu nama bapak dari
KTP di dompet ini. Maaf pak. baru sekarang saya dapat mengumpulkan uang untuk
mengganti uang di dompet bapak yang saya ambil.”
”Ini sudah dua tahun
berlalu. Mengapa timbul di pikiranmu untuk mencari saya dan mengembalikan uang
itu.”
”Selama dua tahun itu
hidup saya tidak tenang, Pak. Nama bapak selalu menghantui hidup saya, dan saya
tidak akan pernah hidup tenang sebelum mengembalikan dompet bapak,” katanya
sambil menyodorkan dompet yang warna dan bentuknya tidak berubah.
Sudah tiga kali ia
menyodorkan dompet itu kepada. ”Jadi kau ingin mengembalikan duit dan dompet
saya ? Mana duitnya ? tanyaku. Ia
mengambil duit dari tas kecilnya dan menyodorkan kepadaku bersama dompetnya.
”Jumlahnya berapa ?” tanyaku tanpa menyentuh dompet dan uang yang ia sodorkan.
”Satu juta lima puluh ribu
rupiah, Pak.”
Tepat. ku hafal betul
jumlah duit di dompetku saat itu. ”sekarang apa yang kau kerjakan ?”
”Saya kuliah Pak.”
”Sudah semester berapa ?”
”Semester akhir. Saya
sedang menyusun skripsi, Pak.”
Beruntung duit yang ia
sodorkan itu tak pernah kusentuh. Bayangkan kalau duit yang jumlah cukup besar
itu ada dalam genggamanku, mungkin aku berpikir seribu kali untuk
melepaskannya. Padahal aku ingat betul bahwa aku telah mengikhlaskan dompet dan
duit itu jika memang diambil oleh orang. ”Begini, nak...!” tiba-tiba aku
memanggilnya anak. ”Sebenarnya waktu kehilangan itu, aku telah
mengikhlaskannya. Jadi sekarang, pergunakanlah uang itu untuk biaya penyusunan
skripsimu. Dompet itupun telah kuikhlaskan dan semua surat-surat di dalammya
telah bapak ganti dengan yang baru. Jadi, kalau kau tidak keberatan berikanlah
dompet itu dengan keikhlasan yang sama kepadaku untuk aku jadikan
kenang-kenangan.”
Ia menyerahkan dompetnya
dan mencium tanganku. Aku melihat ada
dua embun mengkristal di kedua pelupuk matanya. Aku hanya menepuk dan mengusap
pundaknya sebagai tanda sayang dan bangga pada kepribadian dan kejujurannya.
Kalau saja watak dan moralis pejabat negeri ini dapat seperti sikap Nur Hasanah
yang selalu gelisah memegang uang yang bukan haknya. Subhanallah negeri ini
akan di ridhoi Allah Azza Wa Jalla.
Episode selanjutnya,
”Kutemukan anak angkatku yang cantik
dan menggagas
panggung sosialisasi”
CANDU
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
17.37
Rabu, 22 Januari 2014
Di meja kerja
selalu hadir kekasihku
kusediakan tempat istimewa
lengkap dengan pemantik birahi
Setiap kali aku ingin bercinta
kuraba dan kuremas lembut tubuhnya
kukobarkan bara di ujung hasratnya
lalu kukepit dan kukecup
berulang dan berulang kali
hingga kabut menyembur
dan bermain-main di mataku.
selalu hadir kekasihku
kusediakan tempat istimewa
lengkap dengan pemantik birahi
Setiap kali aku ingin bercinta
kuraba dan kuremas lembut tubuhnya
kukobarkan bara di ujung hasratnya
lalu kukepit dan kukecup
berulang dan berulang kali
hingga kabut menyembur
dan bermain-main di mataku.
Zulkomar, 22/1/2014
HANYA KITA
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
19.54
Selasa, 21 Januari 2014
hanya kita
Yang saling
memperhatikan
hanya kita
yang saling
tertarik
hanya kita
yang saling
menerima
hanya kita
mengijab dan
mengkabul
hanya kita
Dalam bilik
asmara
hanya kita
Pada
peraduan
hanya kita
pada malam
hanya kita
membenih dan
menyemai
hanya kita
Kau dan aku
hanya kita
Dimanapun
kau
Dimanapun
aku
selalu
menyatu
Karena kau
dan aku
telah
menjadi kita
Zulkomar, 22/1/2014
MARI BINGUNG MENCARI KESALAHAN
Diposting oleh
TIM Di tangan Anies Baswedan
di
08.16
Di
setiap musim penghujan banjir dapat terjadi di mana-mana. Siapapun tahu kapan
waktu musim penghujan dan setiap orang sudah memperkirakan bahwa setiap hujan
deras berkepanjangan akan menimbulkan banjir. Masalahnya, bagaimana kita
mengatasi agar banjir tidak sampai menjadi bencana besar yang merugikan banyak
pihak dan melumpuhkan banyak aktivitas.
Banjir
di berbagai daerah sudah terbiasa kita dengar dan dampak kerusakannya tidak
begitu signifikan. Mereka di daerah sudah terbiasa mengalami dan mengatasi
banjir. Lain ceritera jika Jakarta yang kebanjiran, Beritanya akan menjadi isu
nasional dan biasanya menjadi komoditas politik. Orang nomor satu di DKI
biasanya naik ke tampuk kekuasaan dengan menghantam incumbent dengan isu-isu
kemacetan dan banjir yang tidak berhasil mereka atasi, kendati para
penggantinya pun nanti tidak dapat mengatasi pula. Begitulah banjir di Jakarta
dari tahun ke tahun. Begitulah kemacetan di Jakarta dari tahun ke tahun.
Siapa
yang mau kita tuding sebagai penyebab kebanjiran ini ? Tentu saja tidak boleh
kita persalahkan hujan yang deras, karena dari tahun ke tahun hujan deras
memang terjadi di setiap musim penghujan. Tentu saja tidak tepat juga
mempersalahkan karena Jakarta berada di dataran rendah dan Bogor berada di
dataran tinggi. Dari dulu juga Bogor berada di dataran tinggi jadi sudah
menjadi hukum alam jika curah hujan di dataran tinggi terkirim ke dataran
rendah di Jakarta. Jadi jangan pernah mempersalahkan alam karena alam punya
hukumnya sendiri. Lalu siapa yang patut kita persalahkan ? Apakah pihak swasta
dan konglomerat yang yang membangun gedung bertingkat dan menanam beton-beton di
perut bumi sehingga mengurangi resapan air. Apakah kesalahan masyarakat yang
tidak disiplin membuang sampah sembarangan yang dapat membuat hambatan aliran
air dan banjir setempat. Atau memang pemerintah dan pemerintah daerah yang
tidak mampu mengatasi persoalan banjir dari ke tahun dengan berdalih bahwa
kesalahan-kesalahan dasar telah dilakukan oleh pendahulunya.
Siapa
yang berwenang menangani masalah banjir dan siapa yang bertanggungjawab atas
bencana banjir. Setiap berbicara kewenangan, setiap pihak merasa dialah yang
paling berwenang menangani dan karena itu patut diberi wewenang dan anggaran
pendukungnya. Tetapi setiap kali berbicara tanggungjawab terhadap bencana
banjir maka setiap pihak akan menyalahkan pihak yang lain. Kalaupun semua
dianggap bertanggungjawab maka yang lainlah yang lebih bertanggungjawab.
Begitulah, setiap pihak bersedia mengambil wewenang tetapi tidak bersedia bertanggungjawab
dan dipersalahkan.
Akhirnya
bangsa ini akan sampai pada satu lingkaran pengelakan diri dan penudingan pada
yang lain. Sehingga situasi dan keadaan dalam masyarkat tiba pada kondisi,
jangan pernah persalahkan yang salah, karena yang salah tentu saja
akan membela diri. Cara si salah membela diri adalah dengan menyalahkan yang
lain, karena selalu harus ada yang salah. Padahal yang lain tentu saja tidak
bersalah karena ia adalah pihak lain dari masalah. Yang lain menjadi bersalah
karena ia dipersalahkan oleh yang membuat kesalahan, setidak-tidaknya salah
dalam mempersalahkan orang lain.
Lalu
siapa yang salah ? Jangan tanyakan pada mereka yang bersalah, karena mereka
yang bersalah akan menjadikan hal yang salah tersebut menjadi demikian rumit dan
berputar-putar sebagaimana putaran banjir yang mencari tempat kosong dan
terendah. Sungguh malang siapapun yang menjadi rendah dan atau direndahkan
karena ia hanya akan menjadi pusaran terakhir sebuah kesalahan yang diperbincangkan
oleh mereka-mereka yang bersalah.
Sebenarnya
dimana kesalahan itu ?
Kalau anda menemukannya, Itu suatu kebetulan.
Entahlah…mungkin tulisan ini juga sebuah kesalahan,
karena sampai akhir tulisan
saya tidak temukan titik kebenarannya.
Mari kita bingung bersama.
Kalau anda menemukannya, Itu suatu kebetulan.
Entahlah…mungkin tulisan ini juga sebuah kesalahan,
karena sampai akhir tulisan
saya tidak temukan titik kebenarannya.
Mari kita bingung bersama.
Jakarta,
21/1/2014
Langganan:
Postingan (Atom)
Poll
Total Pageviews
Categories
- artikel (10)
- Bung Safety (1)
- Catatan (23)
- Cerpen (3)
- essay (27)
- Kenakalan Kreatif (4)
- Monolog (2)
- Perjalanan (5)
- Pidato (4)
- PUISI (33)
- Resensi (5)
- Serial Kecelakaan Transportasi (8)
- Suma menagih tuhan (14)
- Surat-Surat (9)
Popular Posts
-
Bismillahir Rahmanir Rahim Assalamu Alaikum Wr.Wb. 1. Syukur kita panjatkan ke khadirat Allah SWT yang telah memberikan se...
-
Assalamu Alaikum Wr. Wb. Selamat datang teman teman semua. Terimakasih telah menyempatkan waktu di tengah kesibukan kita masing...
-
Pada Hari Rabu, 27 Februari 2013 sekitar pukul 07.30 WIB sebuah mobil Nissan, Bus Pariwisata PO.Mustika Mega Utama dengan flat kuning b...
-
Dalam kesempatan dinas mengunjungi ibukota Provinsi Sulawesi Utara, Manado, aku sudah disuguhi pengalaman yang seperti wajib untuk dibagi...
-
Assalamu Alaikum Wr.Wb. Semua di antara kita pernah diam, tetapi kita tak pernah memperhatikan atau mencatat “diam” sebagai bagia...
-
Sebulan sebelum pernikahan putra pertamaku, aku mendengar istri, anak dan calon menantuku tengah berdiskusi hangat tentang souv...
-
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM ASALAMU ALAIKUM WR. WB. Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan...
-
Namanya, RR. Sri Wahyu Handayani, biasa disapa dengan panggilan akrab, Yenny. Kecantikannya tidak diragukan, kulitnya putih, ramb...
-
Kenali perbatasan negaramu, maka kau akan mengenali bentuk, situasi dan keadaan beranda terdepan negaramu. Siapapun yang melintasi perb...
-
Sembilan tahun tulisan ini kuendapkan Tak ada niat sekalipun untuk mempublikasikannya, karena setiap alinea tulisan ini kulalui deng...
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Labels
- artikel (10)
- Bung Safety (1)
- Catatan (23)
- Cerpen (3)
- essay (27)
- Kenakalan Kreatif (4)
- Monolog (2)
- Perjalanan (5)
- Pidato (4)
- PUISI (33)
- Resensi (5)
- Serial Kecelakaan Transportasi (8)
- Suma menagih tuhan (14)
- Surat-Surat (9)


