AIR MATA DAN MATA AIR

Selasa, 15 November 2016


Saudara tidak perlu mengeluarkan air mata untuk membaca tulisan tentang air mata, saudara hanya perlu membuka mata untuk mengenal air mata dan mata air. Dengan mata kalian bisa melihat segala sesuatu di luar dirimu sendiri, tetapi dengan air mata kalian akan dapat memahami kondisi emosional dirimu dan mensyukuri segala hal yang membuat matamu sebagai mata air yang mengeluarkan air mata.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan air mata sebagai air yang meleleh dari mata. Dengan kata lain, air mata adalah air yang keluar, meleleh dan dan mengalir jatuh dari mata. Ada juga air mata yang keluar dari mata tetapi tidak meleleh dan mengalir. Air mata seperti itu hanya tampak membasahi sehingga mata tampak berkaca-kaca, sehingga mata yang tadinya kering kini basah terlumasi oleh air mata.  Dari kacamata ilmu kesehatan, air mata adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membersihkan dan melumasi mata. Kata lakrimasi dapat digunakan merujuk pada menangis. Namun tidak semua tangisan mengeluarkan air mata. Bayi yang baru lahir saja memulai aktivitas kehidupannya dengan menangis, tetapi ia tidak mengeluarkan air. Ada juga orang yang mampu mengendalikan tangisannya sehingga tidak sampai mengeluarkan air mata, ia hanya terlihat seduh sedan dengan nafas naik turun menahan emosi jiwanya.

Mengapa air mata dinamakan air mata ? Jawabannya sederhana, karena air itu keluar dari mata dan pengguna bahasa Indonesia sepakat menamakannya air mata. Tetapi jika kita membasuh muka dan ada air menempel di mata, kita tidak akan menamakan air yang menempel itu sebagai air mata, melainkan hanya menyebutnya air di mata. Jadi air mata itu bukan air sembarangan, melainkan air yang diproduksi oleh emosi jiwa sehingga rasanyapun agak asin dan tidak layak dikonsumsi sebagai air minum. Lalu bagaimana dengan air mata buaya yang diproduksi oleh emosi kebohongan dan kepura-puraan ? Adakah rasanya asin atau tawar ? Sayangnya tak ada buaya yang bersedia mengeluarkan air matanya untuk tujuan riset manusia. 

Jika air yang keluar dari mata dinamakan air mata, maka mata yang mengeluarkan air dapat kita sebut sebagai mata air. Namun para pengguna bahasa belum sepakat menamakan mata sebagai mata air, karena mata tidak selamanya mengeluarkan air. Mata hanya dapat kita katakan sebagai mata air ketika mata hadir sebagai sumber keluarnya air, yaitu air mata. Sama dengan mata air di tanah yang selama ini kita kenal sebagai mata air. Ia dinamakan mata air karena mengeluarkan air, jika mata air tak lagi mengeluarkan air, maka ia tidak lagi bernama mata air. Bedanya, air yang keluar dari mata air di tanah tidak kita namakan air mata. Mengapa ? karena keluarnya air dari mata air di tanah tidak didorong oleh emosi jiwa yang sakit, senang dan atau bahagia.

Padahal secara metaforis, keluarnya air dari mata air di tanah dapat kita artikan sebagai tangisan bumi yang tidak tahan menahan beban mineral bumi sehingga air menyembur ke permukaan. Bisa juga diartikan tangisan bumi karena adanya permukaan yang memotong muka air tanah, atau dapat pula berupa tangisan bumi karena adanya struktur tanah rekahan atau susunan yang nyasar sehingga air tersesat dan mencari penyaluran melalui mata air yang dibentuknya. Mata air dan air mata adalah proses alamiah yang dialami bumi dan manusia.

Dalam keseharian kita hanya mengenal air mata sebagai buah tangisan. Air mata yang tercurah saat menangis merupakan ungkapan perasaan atas kekecewaan, sakit hati, terluka, sedih dan bahagia. Dengan demikian tangis adalah salah satu anugerah bagi hidup dan kehidupan agar kita senantiasa menyadari bahwa dibalik ketangguhan fisik dan daya nalar manusia, terdapat keterbatasan dan ketakberdayaan atas kuasa Allah yang menentukan segala-galanya.

Tangis dengan demikian merupakan bentuk kepekaan diri dalam mendeteksi perasaan dan keterbatasan diri. Jadi, kalau anda ingin menangis, jangan ditahan. Menangislah, biarkan diri anda menangis, biarkan alam menyaksikan tangisanmu. Menangis bukanlah kelemahan, bukan juga kesalahan yang harus dihakimi. Menangis itu kebebasan jiwa untuk mengungkapkan perasaan yang tersimpan, yang tersisa dan terbiar di dasar keinginan. 

Saya hanya berpesan satu hal. Jangan akhiri dengan tangisan.
Di sumber mata air panas, Banda Aceh

Jakarta, 15 November 2016

YANG TERKINI TAPI BUKAN TERAKHIR

Sabtu, 12 November 2016


Saudariku Ridawati Yatim
Di Manuruki II

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Tertangkapnya tangannya H. Abdul Hadi Jamal, tetanggamu yang  anggota DPR-RI dan juga sebagai Ketua DPP Partai Amanat Nasional dan bahkan masih mencalonkan diri sebagai calon legislator pada pemilu 2009 mendatang, mengingatkan aku pada suratmu dua minggu yang lalu. Maaf, baru saat ini aku punya alasan untuk menjawabnya.

Bagiku surat pendekmu sesungguhnya bukan untuk meminta pertimbangan, tetapi untuk menyatakan bahwa kamu akan meninggalkan dunia dagang dan mencoba menceburkan diri ke Senayan. Aku sungkan memberikan pandangan. Engkaulah yang paling mengerti kapasitas dirimu, nawaitumu dan mengkalkulasi peluang-peluangnya. Bukankah yang terpenting dalam hidup ini adalah mengambil keputusan. Jadi apapun keputusanmu dan apapun hasil dari keputusanmu, itulah milikmu yang sah. Jadikanlah pengalaman dan nuranimu sebagai neraca utama. Jangan tergiur ataupun terbius oleh pandangan-pandangan politikus, karena nalar politikus tidak pernah diperuntukkan untuk orang diluar dirinya.

Saudariku !
Simak baik-baik dinamika yang terjadi akhir-akhir ini. Kasus Hadi Jamal hanyalah berita terkini tetapi bukan berita terakhir. Masih akan banyak cerita memilukan dan memalukan yang akan kau dengar sepanjang KPK masih bekerja dan pemerintahan masih komit untuk melawan korupsi. Sebelum Hadi Jamal, telah tersandung Al Amin Nasution, Yusuf Emir Faisal, Sarjan Taher, Saleh Djasit, Bulyan Royan, Noor Adnan Razak, Antony Zeidra Abidin, Hamka Yamdu dan sederet nama lain anggota DPRD di beberapa wilayah profinsi dan kabupaten. Bagitu banyak yang terjerat tetapi masih lebih banyak yang belum terjerat.

Saudariku !
Dengarkanlah betapa merdunya nyanyian senayan ketika mereka membawakan langgam BBM, langgam penanganan Ibadah Haji dan langgam pemilihan presiden. Mereka memang apik dan piawai membagi suara, suara komisi I, suara komisi II, suara komisi III dan seterusnya. Tetapi ketika Hadi Jamal dan yang lain tersandung, suara mereka menghilang. Padahal sympony orkestra republik masih bermain walaupun suaranya tidak lagi keluar menembus
dinding senayan.


Saudariku
!
Pertimbangkan kembali niatmu. Kamu kan bukan orang yang mengakar di partai. Kamu hanya direkrut oleh partai untuk mendulang suara atau barangkali untuk membiayai kegiatan partai. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa partai kurang selektif ketika memasang seseorang menjadi calon legislator. Jadi coba ingat-ingat kembali apa yang melatarbelakangi partai menempatkanmu sebagai caleg. Apakah untuk mendulang suara perempuan ? Apakah agar kamu bisa membantu membiayai partai ? Atau memang mereka melihat kamu memiliki kapabilitas sebagai wakil rakyat ? jika alasan terakhir itu, kamulah sendiri yang harus mengukur dirimu.

Kau lihat sendiri bagaimana para calon legislator bekerja begitu keras meyakinkan pemilih, bahkan tanpa merasa berdosa menjanjikan kepada rakyat kesejahteraan, bebas biaya pendidikan, berobat gratis, sesuatu yang secara nalar sebenarnya tidak dapat mereka wujudkan. Tidak tahu berapa banyak sudah dana yang mereka keluarkan untuk memasang baliho, spanduk, iklan dan dana-dana sosial. Mereka menganggap rakyat pemilih adalah mahluk sosial yang naif dan pasif sehingga mudah dipengaruhi oleh retorika politik.

Saudariku !
Setelah reformasi, rakyat semakin cerdas secara politik. Ia sadar kedaulatan ada ditangannya, rakyat sadar bahwa dialah penentu siapa yang pantas dan siapa yang tidak pantas untuk duduk di Senayan. Jika partai kurang selektif menentukan calon legislatornya, rakyat justru sangat selektif menentukan pilihannya. Saat ini bukan hanya politikus yang berkerja keras, rakyat juga bekerja lebih keras membaca situasi, mendalami perkembangan, mencari tahu siapa wakil rakyat yang dapat mereka percayai untuk menyuarakan kepentingannya.

Jika kau yakin mayoritas rakyat di daerah pemilihanmu mempercayaimu, silahkan maju terus. Tetapi kalau kamu merasa selama ini belum belum berbuat sesuatu yang berarti bagi lingkungan dan masyarakat sekitarmu, pertimbangkan kembali keinginanmu. Mungkin Tuhan sudah menggariskan bahwa lahan hidupmu di bidang perniagaan. Semoga Tuhan senantiasa memberikan petunjuk padamu. Amin.


Tanjung Priok, 6 Maret 2009
Hormat Saudaramu,
Bung Komar

MEMBINA PERKAWINAN KEDUA

Jumat, 11 November 2016


Adikku Nasmy…!
Ini untuk pertama kali aku bersurat padamu. Jangan tanya mengapa, karena jawabannya hanya ada pada rentang waktu dan jarak. Tiga puluh tahun adalah waktu yang lama, dan dalam rentang itu banyak ceritera yang tak lagi kudengar. Tetapi percayalah aku selalu berdoa dan berharap kehidupanmu berjalan baik-baik saja. Ada banyak hal tentang diri dan keluargamu yang kusimpan baik-baik, terpelihara di benakku sebagai kesan.

Aku benar-benar kaget mendengar dari sahabat-sahabatmu bahwa engkau melangsung pernikahanmu yang kedua. Tadinya kuanggap berita itu gurauan atau aku yang salah membaca maksud obrolan teman-teman tentang dirimu, hingga muncul photo pernikahan keduamu dalam group di WA. Aku memang tidak punya alasan untuk kecewa, tetapi sejujurnya aku mengharapkan engkau mengundang atau setidaknya mengabarkan maksud baikmu. Sehingga akupun dapat menyertakan doa bagi kebahagiaanmu. Namun demikian aku harus memaklumi bahwa jarak selalu menjadi alasan yang paling rasional.

Lima tahun terakhir komunikadsi kita nyambung kembali karena adanya medsos, namun intensitas obrolan terbatas dan terkendala oleh kesibukan kita masing-masing. Lewat postingan di FB aku tahu kamu baik-baik saja. Apalagi melihat kebahagiaanmu bersama anak anakmu yang cantik-cantik, dan juga aktivitas karirmu yang semakin baik. Memang selama ini aku tak pernah melihat postingan photo photo suamimu, dan aku merasa tak perlu bertanya, mengapa. Mungkin saja suamimu kurang senang dengan medsos, atau kamu sendiri lebih nyaman dengan pikiran-pikiranmu. Aku juga tak pernah membaca statusmu yang galau atau suasana hatimu yang sedang terganggu. Namun akhirnya semua terjawab ketika kabar pernikahan keduamu menjadi perbincangan di antara teman-teman kita bersama.

Adikku Nasmy…!
Selamat berbahagia adik cantikku. Kanda berharap pernikahan keduamu akan berjalan lebih baik dan menjadikan pernikahan pertama sebagai referensi dan pengalaman berharga dalam membangun bahtera keduamu. Apakah pernikahan kedua akan menjadi lebih baik atau kemungkinan lebih rentan, semua akan berbalik pada kalian yang menjalaninya. Sejujurnya aku sedikit khawatir karena aku percaya pada kalimat sakti ini,

“Jika seorang lelaki ditinggal mati oleh istrinya lalu memutuskan untuk menikah kembali, itu karena ia sangat mencintai istri pertamanya. Sebaliknya jika seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya lalu memutuskan untuk menikah kembali, itu karena ia tidak menemukan cinta pada suami pertamanya.”

Tapi lupakanlah kalimat tersebut karena tidak sesuai dengan konteks persoalanmu. Persoalan pernikahan pertama kalian berdua berakhir karena perceraian. Itu berarti kalian berdua adalah orang-orang yang kehilangan cinta pada pernikahan pertama. Oleh karena itu kanda berharap pada pernikahan kedua ini, kalian menemukan kembali cinta yang hilang itu. Oleh karena itu aku berharap kamu tidak melakukan kekeliruan yang sama dalam hal menentukan dan memutuskan standar dan kriteria pasangan hidupmu yang baru. Ingatlah sayang, keputusanmu untuk menjalani pernikahan kedua, bukan hanya keputusan dua kepala yang akan menikah. Kanda harap kamu sudah mempertimbangkan isi kepala dan gerak hati anak-anakmu. Karena dalam pernikahan keduamu bukan hanya kalian berdua yang menjalaninya tetapi anak-anak juga menjadi bagian yang akan memberi warna dalam lukisan terbarumu.

Adikku Nasmy…!
Kanda berharap kamu cukup siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan dari tantangan dan persoalan-persoalan yang menyertai pernikahan keduamu. Kalian berdua bisa saja menganggap bahwa pernikahan pertama sudah berakhir. Kalian juga bisa saja menganggap bahwa semua ingatan tentang yang pertama sudah harus dikubur karena terlalu banyak berisi hal-hal yang tidak menyenangkan. Tapi ingatlah bahwa pernikahan pertama itu ibarat semua buku yang pernah kalian tulisi bersama, dan tanpa sadar kerap membuka kembali lembaran-lembarannya.


Jadi jangan terlalu berharap pasanganmu melupakan pernikahan pertamanya. Jika hal itu tiba-tiba timbul dalam perbincangan, sikapi dengan biasa-biasa saja. Jangan ekspresikan sikap cemburumu ketika masa lalu hadir dalam perbincangan. Kamupun juga berusaha untuk tidak bernostalgia tentang perkawinan pertamamu, dan ketika tanpa sadar kau ceriterakan kembali, berhentilah ketika kalimat masih dalam koma.

Adikku Nasmy….!
Pekerjaan terbesarmu ke depan adalah menjaga perasaan anak-anakmu, anak-anak pasanganmu, orang tua dan keluarga terdekat kalian, juga termasuk teman-teman yang sudah terbiasa berinteraksi dengan pasanganmu sebelumnya. Bukan hanya kamu dan pasanganmu yang harus menyesuaikan diri kembali dengan situasi yang baru, tetapi kamupun harus membantu anak-anak, orang tua, keluarga dan sahabatmu membangun penyesuaian diri yang baru.

Kamu harus melatih kesabaranmu ketika ada letupan-letupan protes dari anak anak tentang situasi baru yang belum siap mereka terima. Bicarakanlah bersama-sama dengan pasangan barumu bagaimana menyikapi perubahan-perubahan baru dan membangun penyesuian diri sedikit demi sedikit. Jangan memaksakan anak-anak untuk menerima perubahan itu, tetapi berilah selalu pengertian bahwa keadaan sudah berubah, dan semua dari kita harus berlatih menyesuikan diri dengan kondisi yang baru.

Hal lain yang perlu kamu perhatikan pula adalah menjaga perasaan pasanganmu sewaktu berkumpul dan bergaul dengan teman-teman lama. Biasanya tanpa sadar topik lari ke ceritera-ceritera tentang pernikahan pertama. Kamu harus bersikap bijak dan menjaga jangan sampai pasanganmu merasa tersisih dalam komunitas teman-temanmu. Saya sich percaya teman-teman lamamu tahu bagaimana bersikap di hadapan pasangan barumu.

Nasmy….!
Ada hal yang sangat penting kusampaikan padamu. Maaf, kanda tidak bermaksud mengguruimu. Kanda tahu secara keilmuan kamu lebih tahu tentang kehidupan ini. Anggap ini hanya sebagai pengingat. Bukankah saling mengingatkan itu baik dan bernilai ibadah. Pernikahan keduamu ini adalah pernikahan antara dua anak manusia yang usianya sudah matang, secara ekonomi mapan, secara psikologis kaya akan terpaan pengalaman hidup. Oleh karena itu aku menganggap perlu mendiskusikan pengelolaan harta dan asset-aset lain. Maaf, kesannya usulanku ini mungkin mengerikan. Ingatlah ikatan pernikahan itu punya dampak pada asset asset ketika salah satu dari kalian tak lagi membumi. Kalian perlu menyesuaikan dokumen-dokumen pengelolaan harta dengan kondisi keluarga yang baru. Kanda sich berharap kalian berdua bersedia menganggap bahwa kalian tidak memiliki apa-apa lagi. Semua telah menjadi milik anak-anakmu. Sehingga kelak ketika salah satu dari kalian menghuni bumi ini, maka mereka yang ditinggal tidak menanggung beban persoalan kedua orang tuanya. Engkaulah yang paling mengerti tehnisnya.

Ada satu lagi usulan yang juga mungkin lebih ekstrim, tetapi baik bagi kalian berdua. Janganlah lagi berpikir untuk memiliki anak dari perkawinan keduamu, karena kalian masing-masing telah memiliki anak-anak yang beranjak dewasa. Ini hanya usulan yang dilandasi pemikiran panjang dan kasih sayang. Selebihnya kalian berdualah yang lebih tahu apa yang harus dilakukan ke depan. Kanda hanya selalu berdoa kalian berdua menjadi pasangan yang Sakinah Mawaddah, warahma.


Jakarta, 10 November 2016