LUBANG MAUT RENGGUT 17 NYAWA PEZIARAH MAKAM DALEM CIKUNDUL

Rabu, 11 Maret 2015


Pada Hari Rabu, 27 Februari 2013 sekitar pukul 07.30 WIB sebuah mobil Nissan, Bus Pariwisata PO.Mustika Mega Utama dengan flat kuning bernomor kendaraan F-7263-K mengangkut 82 orang penumpang berangkat dari Desa Sukajaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor menuju Desa Cikundul, Kabupaten Cianjur  untuk melakukan wisata ziarah ke makam Bupati Cianjur pertama Raden Aria Wira Tanu bin Aria Wangsa Goparana yang mendapat julukan Dalem Cikundul. Warga Desa Sukajaya telah menjadikan wisata ziaran ke makam Dalem Cikundul sebagai kegiatan rutin tahunan. Makam Dalem Cikundul, sudah sejak lama dikenal sebagai obyek wisata ziarah. Dalem Cikundul, konon tergolong kepada syuhada sholihin yang ketika masih hidup dan kemudian menjadi dalem dikenal luas sebagai pemeluk agama Islam yang taat dan penyebar agama Islam.


Mobil Bus PO Mustika Mega Utama yang telah menjadi langganan warga itu, kali ini disesaki oleh penumpang. yang hanya berkapasitas 59 tempat duduk, tidak termasuk tempat duduk supir tentunya. Rombongan peziarah yang 59 orang sebenarnya sudah cukup untuk menyewa satu Bus. Namun kemudian ada beberapa rombongan yang membawa serta anak-anaknya, ada yang dipangku dan ada yang berdiri di lorong sehingga total muatan Bus PO. Mustika Mega Utama berjumpah 81 orang. Sepanjang perjalanan seisi bus riuh oleh celoteh penumpang yang senang akan kembali berziarah ke makam Dalem Cikundul. Sekitar pukul 09.00 WIB Bus sempat berhenti selama kurang lebih 30 menit untuk beristirahat di salah satu SPBU di Desa Leuwiliang sebelum kemudian kendaraan melanjutkan perjalanan ke Desa Cikundul.

Kurang lebih dua jam perjalanan mobil bus Mustika Mega Utama berikut rombongan yang dibawanya telah memasuki daerah Kabupaten Cianjur, tepatnya di KM. 87 Jalan Raya Puncak – Ciloto. Saat itu jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. seharusnya panas terik, tetapi mentari malu-malu menampakkan diri dan bersembembunyi dibalik kabut tipis. Cuaca agak mendung  tetapi tak turun hujan. Bus melintasi ruas jalan dengan geometri jalan yang menurun dan menikung. Sesungguhnya sopir Bus Mustika Mega Utama belum mengenal persis situasi jalan di jalur ini mengingat bahwa inilah untuk pertama kalinya ia melintas di jalur Jalan Raya Puncak – Ciloto. 

Lalu lintas saat itu agak legang dan tidak macet sehingga supir tetap menjalankan kendaraannya dengan kecepatan yang sama di sepanjang jalur KM. 87 . Tiba-tiba dalam jarak yang semakin dekat supir melihat ada lubang di sisi kiri jalan dan karena itu ia membanting stir ke arah kanan merapat pada garis marka jalan kemudian berusaha untuk masuk kembali ke jalur kiri. Tetapi kemudian Sang Supir melihat ada lagi lubang yang lebih besar di bagian kiri jalan agak ke tengah sehingga supir kembali membanting stir ke arah kanan jalan dan kemudian kembali membanting stirnya untuk masuk ke jalur kiri. tetapi apa lacur kostur jalan setelah itu menikung ke arah kanan sehingga mobil Bus mulai kehilangan kendali. Teriakan beberapa penumpang untuk berhati-hati dan meminta supir melakukan pengereman tidak banyak membantu.

“DUBRAAKK”  Suara benturan itu terdengar keras dan beberapa orang pengunjung warung yang ada di sekitar kejadian berhambur keluar untuk melihat apa yang terjadi. Mobil Bus PO Mustika Mega Utama hancur berkeping setelah menabrak dinding tebing berbatu di sisi kiri. Mobil bus yang tak lagi berbentuk itu miring ke kiri dimana ban depan dan belakangnya masuk ke dalam got di tepi tebing. Jerit histeris dan tangis penumpang terdengar memilukan. Sementara penduduk setempat tidak punya keberanian untuk melakukan evakuasi karena khawatir mobil kemungkinan sewaktu-waktu dapat meledak. Beruntunglah pihak kepolisian cepat berada di lokasi untuk melakukan evakuasi dan mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan panjang.

Akibat kecelakaan ini diketahui 15 orang meninggal di tempat kejadian dan dua orang meninggal pada saat mendapatkan perawatan di rumah sakit, 26 orang luka berat dan 32 orang luka ringan, dan sisanya 7 orang Alhamdulillah tidak mengalami luka fisik tetapi mungkin akan menyimpan trauma panjang atas kejadian tersebut. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) setelah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian setempat segera melakukan investigasi menyeluruh. Ada investigator yang memeriksa kendaraan untuk memastikan fungsi tiap-tiap komponennya, ada juga investigator yang memeriksa kostur jalan dan rambu-rambu peringatan, serta invistigator lain yang melakukan wawancara terhadap saksi -saksi.

Hasil pemeriksaan terhadap kendaraan membuktikan bahwa bodi kendaraan, kerangka bodi, roda, sistem rem, dan sistem kemudi cukup baik dan layak pakai. Hanya saja karena penggunaan rem yang berulang-ulang dalam waktu yang panjang mengakibatkan timbulnya panas yang tinggi dan menyebabkan lengketnya kanvas rem terhadap tromol, sehingga terjadi blocking pada roda belakang kiri.

Adapun jalan disepanjang KM. 87 Jalan Raya Puncak – Ciloto telah dilengkapi rambu-rambu peringatan untuk berhati-hati, ada tikungan, jalan licin serta garis marka jalan yang cukup jelas dan tegas. Hanya saja kondisi menurun landai dan tikungan serta jalan yang berlubang-lubang dan adanya galian yang tidak segera dilakukan penutupan berpotensi besar membahayakan pengemudi. Berdasarkan keterangan saksi saksi diketahui bahwa lubang-lubang tersebut telah cukup lama dan belum ada perbaikan. Saksi pemaparkan bahwa sebelum kecelakaan PO. Mustika Mega Utama telah terjadi beberapa kecelakaan yang disebabkan oleh lubang-lubang tersebut. Lubang itulah yang merenggut 17 nyawa peziarah makam Dalem Cikundul. Para korban itu tidak lagi dapat berziarah, kini giliran para korban yang diziarahi oleh para keluarga dan kerabat mereka.

Malang memang tak dapat ditolak, tetapi kecelakaan sesungguhnya dapat dicegah dan dihindari jika saja supir Bus PO. Mustika Mega Utama mengenal medan jalan yang dilalui dan bersikap waspada serta berhati-hati melintas pada jalan yang belum ia kenali. Sehingga jika ada situasi yang tidak aman (unsafety situation), Sang Supir dapat bereaksi dan bertindak lebih safety.  Bagaimanapun seorang supir angkutan umum harus menyadari bahwa disamping menjaga keselamatan diri dan kendaraannya, keselamatan para penumpangnya hendaknya menjadi prioritas perhatiannya. Sang Supir boleh-boleh saja percaya diri dengan kemampuan dan keterampilannya, tetapi semua itu harus diimbangi dengan pengetahuan akan kostur jalan yang ia lintasi dan kondisi kendaraan yang dibawanya dengan memperhatikan segala rambu peringatan dan batas kecepatan yang ditentukan.

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan serupa di tempat yang sama dengan penyebab yang sama, maka pada rilis laporan final Komite Nasional Keselamatan Transportasi telah merekomendasikan kepada pihak-pihak terkait, antara lain kepada Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum agar segera memperbaiki ruas jalan yang berlubang sepanjang 500 meter sebelum dan sesudah lokasi terjadinya kecelakaan, serta segera melakukan penutupan terhadap lubang galian yang dilakukan pada saat perbaikan jalan. Ada ketentuan umum yang kadang lalai dilakukan, yaitu perlunya papan peringatan yang mengingatkan pengemudi bahwa di suatu titik jalan ada lubang atau pekerjaan perbaikan jalan.

Keberadaan KNKT sebagai lembaga yang berwenang menginvestigasi penyebab suatu kecelakaan transportasi di Indonesia  telah mendapat tempat dan diterima dengan baik oleh stake holder. Rekomendasi yang dikeluarkan oleh KNKT direspon positif baik dan dalam banyak hal ditindaklanjuti oleh regulator maupun operator. Setelah KNKT selesai mengivestigasi penyebab kecelakaan Bus PO. Mustika Mega Utama yang menabrak tebing di KM. 87 Jalan Raya Puncak – Ciloto karena berusaha menghindari lubang, maka pihak Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum segera memperbaiki dan menambal lubang-lubang di sepanjang area kecelakaan.


BERTEMU SAHABAT LAMA (33 TAHUN KEMUDIAN)

Minggu, 08 Maret 2015



Namanya, RR. Sri Wahyu Handayani, biasa disapa dengan panggilan akrab, Yenny. Kecantikannya tidak diragukan, kulitnya putih, rambut tergerai, badannya bagus, proporsional dan atletis. Ia adalah pribadi yang hangat, disenangi oleh teman-temannya, disegani oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya. Maklumlah ia adalah karate ban hitam. Banyak orang yang menaruh hati padanya terpaksa urung menyatakan niatnya karena dari awal Yenny telah mengatakan bahwa ia telah bertunangan dengan seorang taruna akabri.

Saya kebetulan berada dalam satu kampus dan satu jurusan dengannya, sehingga hampir di setiap saat berkuliahan kami bertemu dan saling menyapa. Kebetulan saya mahasiswa yang cukup menonjol baik dalam segi akademis maupun aktivitas kemahasiswaan di kampus sehingga banyak mahasiswa yang berusaha dekat denganku. Tentu saja akupun berusaha dekat dengan siapapun. Jujur saja teman-teman dekatku lebih banyak wanita dibandingkan lelaki. Apalagi aku berada di jurusan sastra yang hampir semua mahasiswinya cantik-cantik. Mahasiswi-mahasiswi di Fakultas sastra Unhas sering digelari bunga-bunganya kampus.

Kami biasa kumpul bersama, belajar dan berdiskusi bersama, jalan dan makan bersama, serta dalam banyak kesempatan saling mengunjungi. Saya, Yenny, Onna, Dewi Tally dan Mulyani Kone menjadi komunitas tersendiri di kampus. Jika kami telah berkumpul, barulah teman-teman yang lain ikut nimbrung. Jika sudah berada di kampus, kami belumlah merasa lengkap tanpa kehadiran Yenny. kami biasanya hanya duduk di pelataran kampus menunggu kehadiran Yenny.  Yenny biasa datang dengan honda bebek warna merahnya. Dari jauh biasanya sudah kami tebak kehadirannya karena teman-teman sudah mengenal motor dan juga gayanya berkendaraannya. Gaya berkendaraannya memang terkesan agak tomboy sehingga di jalan jarang ada orang yang berani mengganggunya.

Akulah satu-satunya lelaki dalam kumpulan wanita-wanita cantik itu. Mungkin Yenny dan teman-temannya menganggap, jika lelaki hadir dengan karakter buayanya, maka aku dianggap sebagai buaya yang mudah dijinakkan. Nyatanya memang begitu. Yenny dan teman-temannya seringkali berhasil memaksakan kehendaknya padaku. Apapun yang mereka rencanakan, aku biasanya ikut saja. Di dalam kampuspun kami sering memilih tempat duduk saling berdekatan.

Dalam aktivitas extra kurikuler Yenny-pun seringkali kami libatkan. Uniknya, walaupun ia memiliki banyak kebisaan, tetapi Yenny lebih sering ditempatkan sebagai bagian keamanan. Padahal sebenarnya banyak lelaki yang lebih garang dan berbadan kekar untuk mengambil tugas pengamanan. Suatu kali ada kelompok mahasiswa yang mengadakan protes atas kegiatan yang kami lakukan. Mereka di luar berteriak dan mendesak masuk ke aula pertemuan. Mendengar suara gaduh, Yenny segera bergegas keluar dan berdiri di depan pintu. Aku tentu saja khawatir dengannya, karena itu aku ikut keluar mendampinginya. Ia hanya mengatakan satu kalimat, kalimat singkat yang keluar tanpa raut gentar, ”Saya minta...! Jangan masuk..!” dan ia memasang badannya, mematung di depan pintu. Ia tidak melayani teriakan-teriakan aksi mahasiswa karena ia bukan type wanita debator. Ia hanya berdiri memastikan tidak ada yang masuk ke ruang pertemuan. Saya sempat mendengar ada satu mahasiswa yang memprovokasi rekannya, ”hanya perempuan”.....dan ia mundur ketika mendapat jawaban, ”Karateka Ban Hitam”. Yenny memang punya kharisma tersendiri, tanpa suara bentakan ataupun mimik di sangar-sangarkan atau di seram-seramkan, ternyata mahasiswa tidak berani masuk dan memilih untuk membubarkan diri.

Terlalu banyak ceritera tentang Yenny dan persahabatan kami. Waktu kebersamaan kami memang tak lama, tetapi ikatan emosional itu kuat melekat dalam memoriku. Pada masa itu budaya telepon seluler  belum ada, sehingga kami hanya bisa berkomunikasi secara langsung. Pada tahun 1982 Yenny tak pernah lagi menampakkan dirinya. Komunikasi dengannya praktis terputus. Saya masih sempat membantu sahabat-sahabat lain menyelesaikan tugas akhir perkuliahannya. Setiap kali kami berkumpul...Yenny menjadi topik pembicaraan, topik ke kangenan. Setelah aku selesai, akupun kembali ke jakarta dan praktis setelah itu hubungan dengan semua teman kampus terputus.

Sejujurnya aku harus menyatakan terimakasih kepada Facebook, karena karena dari media sosial inilah untuk pertama kalinya seorang sahabat, Halim Daties menemukan aku dan mengabarkan kepada teman-teman tentang keberadaanku di media sosial. Mulailah aku kembali mencari dan menemuka teman-teman lamaku. Aku bangga kepada adik-adik angkatanku yang kompak membangun jaringan bertemanannya, sementara aku dan angkutanku lost contact. Aku terus mencari dan selalu gagal menemukan mereka-mereka. Sementara sebuah forum silaturahim di FB yang dibentuk teman-teman juga gagal mendapatkan teman-teman angkatanku.

Begitulah....waktu terus berjalan. Tak terasa sudah 33 tahun aku berpisah dengan sahabat-sahabat cantikku. tetapi ceritera tentang mereka tak akan pernah terhapus dari ingatanku. Akhirnya,  dipenghujung penutupan bulan Febnruari 2015 aku menerima undangan resepsi pernikahan anak dari pimpinanku di kantor. Dari semua teks di kartu undangan tersebut, mataku terdiam lama pada sebuah nama, ”RR. Sri Wahyu Handayani” hati kecilku mengatakan, ”hanya ada satu wanita yang memiliki nama seperti ini, dan dia adalah sahabatku yang menghilang selama 33 tahun.” Tiga hari aku mencari kesempatan untuk menanyakan kepada pimpinanku, karena aku tidak terbiasa menghadap untuk sesuatu yang bukan urusan pekeerjaan.


Akhirnya waktu itu tiba juga. Menjelang pulang kantor aku bertemu pimpinanku lalu menanyakan, ”maaf Pak...apakah ibu pernah kuliah di makassar?” // dijawab ”Iya”. // ”Fakultas sastra,” tanyaku lagi.// dijawab ”Iya”. //”Kalau begitu, sampaikan salamku pada ibu. Katakan saja dari Zulkomar teman kuliahnya. Hanya ada satu nama Zulkomar di Sulawesi,” lalu aku pamit pulang.

Kamis, 5 Maret 2015, seusai menghadiri rapat, pada handphone yang tertinggal di ruang kerjaku ada SMS yang masuk lima menit yang lalu.
”Asslkm wrwb. Maaf ini pak Zulkomar ya ?
”Iya betul. ada yang bisa saya bantu ?”
”Ya Allah...Komar.....saya Yenny.”

Aku sungguh bahagia mengetahui bahwa RR. Sri Wahyu Handayani, ini adalah sahabatku. Tetapi aku juga menjadi bingung sendiri bagaimana nanti harus bersikap jika bertemu dengannya, mengingat bahwa saat ini ia adalah istri seorang marsekal, pimpinanku di kantor. Ada yang sedikit melegakan dari SMS Yenny, ”tetap panggil aku Yenny,” katanya. Aku sangat memaklumi, jika aku belum sempat berbicara dengannya karena ia pasti sangat disibuki oleh persiapan resepsi pernikahan anaknya.

Aku kemudian memutuskan untuk menghadiri undangannya yang dilaksanakan di Yokyakarta. Alhamdulillah berkat kebaikan seorang teman, aku mendapat tumpangan untuk berangkat ke Yokyakarta. Saya dan teman-teman masih sempat berjalan-jalan sejenak di kota Gudeg dan malamnya, 7 Maret 2015, pukul 19.00 WIB  menghadiri resepsi. Aku berusaha menerobos tempat tempat terdepat untuk cepat menjabat tangan pimpinanku dan sahabatku. Setelah tamu VIP selesai dan undangan dipersilahkan memberikan doa dan ucapan selamat. Aku segera ikut berbaris naik ke panggung pelaminan. Ingat benar aku berada di urutan ke 13. Pertama-tama aku ucapkan selamat kepada pimpinanku dan kemudian ia menyampaikan kepada Nyonya, ”Ini zulkomar...nanti ngobrol di sana ya...! Aku menjabat tangan dan memandang sejenak wajahnya, ”Subhanallah dia benar-benar Yenny”.  hanya satu kata yang terucap dari mulutnya, ”komar” lalu aku terdesak oleh tamu-tamu yang lain.

Waktu memang belum tepat untuk berceritera banyak, tetapi waktu itu akan tiba. Dari Yenny pulalah aku akhirnya juga menemukan jejak Dewi Tally dll. Dunia ternyata begitu sempit bagi sebuah persahabatan.

PEMUDI TERKUBUR DI PERAIRAN LAUT BANDA

Rabu, 25 Februari 2015


Kapal Pemudi yang dulunya bernama Kapal Bunga Dahlia ini dibuat pada tahun 1979 di Osaka Zosensho Shipbuilding Co., Jepang. Kapal jenis Kontainer berbendera Indonesia ini dimiliki dan dioperasinalkan oleh PT Salam Pacific Indonesia Lines dan telah didaftarkan di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada tahun 2002. 

Jika melihat tahun pembuatannya, mungkin kapal ini sudah dianggap tua untuk beroperasi. Namun ketika KM Pemudi menjalani dok tahunan (annual dock) pada bulan oktober – November tahun 2012 di PT. Dok Pantai Lamongan, Jawa Timur dan pada saat itu dilakukan pekerjaan pergantian plat lambung dan tank top, pergantian pipa, pemeriksaan poros propeller, dan pemeriksaan permesinan, lalu hasil survey BKI (Badan Klasifikasi Indonesia) menyatakan sertifikat klas lambung dan mesin kapal masih dapat dipertahankan, alias masih laik layar.

Seminggu sebelum hari naas itu, hari Rabu tanggal 26 Juni 2013, pukul 18.00 WIB KM Pemudi bertolak dari dermaga Berlian Utara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur menuju Nabire, Papua. Berdasarkan data pemuatan kapal diketahui bahwa KM Pemudi membawa muatan peti kemas sebanyak 214 box dan muatan lepas (loose cargo) berupa 4 unit alat berat.
Di atas anjungan, Petugas Pandu masih menemani Nakhoda, Mualim I, Markonis, dan Juru Mudi Jaga keluar dari dermaga. Setengah jam kemudian saat posisi kapal berada di sekitar utara dermaga Terminal Peti Kemas Surabaya, Petugas Pandu turun dari kapal. Sebelum turun, Petugas Pandu menyarankan Nakhoda untuk berlayar di sisi barat alur pelayaran Tanjung Perak.

Pukul 20.00 WIB Mualim II naik ke anjungan untuk bersiap menggantikan Mualim I. Sebelum istirahat, Mualim I bersama Bosun masih sempat ke geladak utama untuk mengencangkan ikatan peti kemas yang masih kendur. Pukul 22.00 WIB barulah Muallim I menuju kamarnya untuk beristirahat. Pukul 22.30 WIB, pada saat kapal masih dalam proses keluar dari alur pelayaran Tanjung Perak menuju ke Laut Jawa, tiba-tiba kapal kandas di alur. Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk melepaskan diri dari kekandasan kecuali menurunkan jangkar. Kurang lebih 5 jam kapal tertahan dan tak bisa bergerak. Pada keesokan harinya, Kamis, 27 Juni 2013, sekitar jam 03.30 dini hari ketika air pasang barulah KM Pemudi dapat melepaskan diri, mengangkat jangkar dan melanjutkan pelayarannya menuju Nabire dengan kecepatan 9 knot.

Entah apa yang terjadi dengan komunikasi antara awak kapal dengan perwira kapal karena baru pada hari sabtu, 29 Juni 2013 Mualim I baru mendapat informasi bahwa kapal sempat kandas saat meninggalkan perairan Tanjung Perak. Mualim I kemudian memastikan kepada Nakhoda tentang kejadian tersebut. Sejak mengetahui kejadian tersebut, Mualim I memerintahkan Cadet (calon perwira kapal) untuk memerum tangki ballast dan got palka dua kali sehari, pagi dan sore. 

Selama tiga hari kondisi kapal tampaknya biasa-biasa saja, kondisi permesinan di kamar mesin baik-baik saja, mesin induk beroperasi hanya dalam kecepatan rendah dan mesin bantu sebagai penggerak generator berjalan normal. Pada saat itu, selasa, 2 Juli 2013, pukul 23.00 WITA kapal berada di sekitar Laut Banda dimana tinggi gelombang sekitar 3-4 meter. Tiba-tiba Muallim III merasakan ada kemiringan pada laju kapal dan ternyata kapal telah miring 5 derajat ke kanan. Mualim III segera melaporkan kondisi tersebut kepada Mualim I. Mualim I menginstruksikan kepada Mualim III agar menghubungi kamar mesin untuk hanya menggunakan bahan bakar dari tangki MFO double bottom kanan. 

Keesokan harinya Rabu, 3 Juli 2013, ketika fajar belum lagi hadir dan langit masih diliputi kegelapan Mualim II yang saat itu bertugas di anjungan melaporkan kepada Mualim I bahwa kemiringan kapal telah mencapai 7 – 10 derajat kanan. Kepala Kamar Mesin (KKM) dan Kepala kerja bagian dek (bosun) pun langsung menemui Mualim I di kamarnya menyampaikan situasi yang makin darurat.

Mengetahui kondisi tersebut, Nakhoda segera naik ke anjungan dan mengaktifkan alarm kapal. Seluruh awak kapal mulai berkumpul di geladak utama, sementara Mualim I dan beberapa awak lainnya mulai memeriksa penyebab kemiringan kapal. Di ruang palka 1 dan palka 2 mereka tidak menemukan genangan air,  namun air laut sudah naik ke geladak utama sebelah kanan. Nakhoda memerintahkan Mualim I untuk memeriksa tangki void kanan, tetapi Mualim dan awak kapal tak dapat membuka manhole tangki valid kanan karena ombak telah naik ke geladak utama kanan. Untuk menghindari semakin besarnya ombak yang naik ke geladak, atas saran Mualim I haluan kapal diubah dari 051 derajat ke haluan 080 derajat. Tetapi hal itu tidak juga mengubah kondisi ombak yang naik ke geladak.

Dengan tidak dapat dibukanya manhole tangki void kanan dan kemiringan kapal yang telah mencapai 15 derajat kanan, Nakhoda tidak punya pilihan lain selain memerintahkan awak kapal untuk bersiap-siap meninggalkan kapal. apalagi saat itu tampak beberapa peti kemas sisi kanan mulai berjatuhan ke laut. Jatuhnya muatan peti kemas di sisi kanan ternyata telah mengubah kemiringan kapal tinggal 5 derajat kanan. Hal itu tentu saja sebuah harapan sehingga nakhoda dan awak kapal naik kembali ke anjungan. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena beberapa menit kemudian kemiringan kapal kembali ke posisi 15 derajat kanan. Sepertinya tak ada pilihan, Nakhoda memerintah Mualim III menekan tombol emergency Stop  Engine di anjungan untuk persiapan penurunan liferaft. 

Setelah liferaft kiri telah siap, satu persatu awak kapal mulai naik ke liferaft di tengah ombak yang semakin membesar. Sekitar pukul 04.20 barulah tali painter liferaft terlepas dan mulai bergerak menjauh dari kapal. Sementara itu Mualim I dan Juru Minyak belum ikut serta. Sepuluh menit kemudian Mualim I dan Juru Minyak berlari menuju liferaft kanan, meluncurkan ke laut dan mereka naik ke atasnya saat kondisi geladak kanan telah tergenang air. Tidak lama kemudian KM Pemudi tenggelam di perairan Laut Banda dengan kondisi haluan kanan masuk ke dalam laut terlebih dahulu. Akibat kecelakaan ini kemudian diketahui 19 orang awak kapal hilang sedangkan dua orang awak kapal yaitu Mualim I dan Juru Minyak selamat dan dievakuasi ke Kendari Sulawesi Tenggara. Tercatat, Rabu, 3 Juli 2013, Pukul 04.30 KM Pemudi beserta selutruh muatannya terkubur di dasar laut perairan Laut Banda.

Berdasarkan kesaksian Mualim I yang selamat, bahwa ia sempat melihat liferaft kiri yang membawa Nakhoda bersama awak kapal lainnya hanyut ke buritan kanan kapal, sementara liferaft kanan yang ditumpanginya hanyut ke sisi kiri kapal dan akhirnya kedua liferaft tersebut terpisah jauh. Sementara Kantor Basarnas sendiri baru menerima sinyal EPIRB yang menyatakan tentang KM Pemudi, pada tanggal 4 Juli 2013, pukul 19.24. sedangkan DPA menerima informasi dari Basarnas pada 5 Juli 2013, pukul 20.13 dan selanjutnya memerintahkan dua kapal miliknya, KM Oriental Silver dan KM Pratiwi Raya untuk mencari awak kapal di titik lokasi tenggelamnya KM Pemudi.

Berhubung karena KM Pemudi telah karam di laut, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) hanya mengalisis berdasarkan dokumen-dokumen pelayaran dan kesaksian Muallim I dan Juru Minyak yang masih hidup serta pihak-pihak lain yang berhubungan dengan regulator dan operator pelayaran. KNKT menyimpulkan bahwa faktor utama tenggelamnya KM Pemudi adalah karena kapal kehilangan daya apung akibat masuknya air laut ke dalam kompartemen-kompartemen di bawah geladak lambung timbul.

sebenarnya kecelakaan kapal dapat dicegah seandainya awak kapal KM Pemudi segera memeriksa keadaan kapal pasca kandas di alur pelayaran Tanjung Perak. Dengan pemeriksaan keadaan kapal, Nakhoda dapat mengambil keputusan-keputusan untuk melanjutkan atau tidak melanjutkan pelayaran. Tidak adanya pelaporan kepada pengawas kepanduan Pelabuhan Tanjung Perak serta pelaporan ke DPA itu saja sudah merupakan sebuah penyimpangan prosedur keselamatan transportasi laut. tenggelamnya KM Pemudi akan menjadi pembelajaran berarti bagi para operator pelayaran nasional untuk mentaati prosedur-prosedur keselamatan transportasi dalam melaksanakan operasionalisasi pelayaran. 


PENGANTIN JATUH KE JURANG

Senin, 23 Februari 2015


Maksud hati ingin merayakan pernikahan bersama keluarga besar di Bunga Mas, Bengkulu Selatan, tapi apa daya di tengah perjalanan, tepatnya di kawasan Tebing Batu Syech Manula Pugung Kecamatan Lemong, Lampung Barat, tak jauh dari perbatasan, bus PO Penantian Utama yang dicarter oleh keluarga mempelai wanita dari Desa Tanjung Baru Ranau terguling dan terperosot ke jurang sedalam 61 meter.  Dalam peristiwa naas tersebut 13 orang meninggal dunia. Beruntunglah bahwa calon mempelai selamat sehingga prosesi pernikahan tetap berlangsung walau dalam suasana duka yang mendalam.

Di penghujung penutup tahun,  tanggal 19 Desember 2008, sekitar pukul 08.00 WIB rombongan pengantin sebanyak 34 orang menyesaki mobil bus PO Penantian Utama dengan nomor kendaraan BE-2334-FC yang hanya berkapasitas 28 orang dan 270 kg barang tersebut berangkat dari Ranau menuju Manna, Bunga Mas, Bengkulu Selatan. Perjalanan dari Ranau menuju Manna akan memakan waktu selama 7 sampai dengan 8 jam dalam kondisi perjalanan yang normal.

Rombongan berangkat dalam suasana gembira, kendati harus ada penumpang yang berdiri karena kapasitas tempat duduk yang tersedia tidak mencukupi. Kondisi jalan menuju tempat tujuan banyak tanjakan, turunan serta tikungan yang menuntut kewaspadaan dan kehati-hatian, terutama jika harus berpapasan dengan kendaraan lain dari awarh yang berlawanan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam lebih, mereka mampir beristirahat selama kurang lebih satu jam di Desa Lemong.

Pukul 11.00 WIB bus PO Penantian Utama kembali melanjutkan perjalanan. Kira-kira 500 meter sebelum tiba di lokasi kejadian, pada kondisi jalan yang menanjak, tiba-tiba jalan menurun. berlubang dan menikung. Pada pukul 12.30 WIB di kawasan Tebing Batu Syech Manula Pugung, kecamatan Lemong, Pengemudi berusia muda (28 Tahun) ini berusaha menurunkan kecepatan kendaraan dengan pengereman, namun karena kondisi jalan yang menurun tajam, beban dan berat kendaraan serta jalan yang agak perpasir/kerikil mengakibatkan bus tetap meluncur. Dalam situasi yang terjepit, supir mengarahkan kendaraan ke gundukan pasir yang berada di sebelah kanan jalan dengan maksud agar kendaraan dapat berhenti. Namun apa yang terjadi, roda bagian depan kanan terangkat dan kendaraan menjadi miring ke kiri, terguling-guling dan jatuh ke dalam jurang. Hanya teriakan panik dan histeris yang terdengar sebelum bus tergelatak di dasar jurang.

Akibat kecelakaan tersebut 13 orang meninggal dunia, 10 orang diantaranya meninggal di tempat kejadian dan 3 orang lainnya meninggal saat mendapat perawatan di rumah sakit. Kecelakaan ini juga mengakibatkan 19 orang luka berat dan empat orang luka ringan. Sementara supir dan kondekturnya serta calon mempelai pengantin dinyatakan selamat.

Investigasi yang dilakukan oleh KNKT di lokasi kejadian beserta wawancara dengan saksi-saksi menemukan bahwa secara administratif Bus PO Penantian Utama kelebihan batas muatan, beroperasi secara illegal karena tidak mengantongi izin insidentil untuk rute yang dilaluinya, serta dianggap tidal laik jalan karena masa uji berlakunya tidak berlaku lagi. Sementera kondisi jalan di Kawasan Tebing Batu Syech Manula Pugung (tempat kejadian) jalannya menurun dan menikung tanpa adanya rambu lalu lintas, marka jalan dan pagar pengaman di tepi jurang.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, KNKT merekomendasikan kepada Dinas Perhubungan Provinsi Lampung untuk melakukan inventarisasi Daerah Rawan Kecelakaan (DRK) yang ada di wilayah provinsinya. KNKT juga merekomendasikan kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Lampung untuk menempatkan pos pengawasan di lokasi kejadian mengingat area tersebut rawan kecelakaan, serta segera memangkas ranting-ranting pepohonan yang menghalangi pandangan pengemudi kendaraan.